Oleh: Amar MZ -Penyuluh Antikorupsi
Kita tiba di nilai kelima dari rangkaian nilai integritas Jumat Bersepeda KK, yakni nilai yang mungkin terdengar paling mudah diucapkan namun sering kali paling menantang untuk dipraktikkan di era modern: Sederhana. Di tengah gempuran media sosial yang berlomba-lomba memamerkan harta, pencapaian materi, dan gaya hidup serba gemerlap, kata "sederhana" sering kali mengalami distorsi makna. Sederhana tidak berarti miskin, pelit, atau hidup menderita. Sederhana adalah sebuah sikap mental yang merdeka. Ia adalah kemampuan untuk merasa "cukup" dan tidak membiarkan diri kita diperbudak oleh gengsi.
Mari kita memutar waktu sejenak dan belajar dari salah satu Bapak Bangsa kita, Mohammad Hatta. Bung Hatta adalah seorang Wakil Presiden, sosok nomor dua paling berkuasa di Republik ini pada masanya. Namun, tahukah Anda kisah sepatu Bally impiannya? Hingga akhir hayatnya, Bung Hatta tidak pernah mampu membeli sepatu kulit merek Bally yang amat ia idam-idamkan. Ia hanya menggunting iklan sepatu tersebut dari sebuah koran dan menyimpannya di dalam buku hariannya. Bayangkan, seorang pemimpin negara yang bisa saja dengan mudah menggunakan fasilitasnya atau menerima hadiah dari pengusaha, memilih untuk menahan diri. Bung Hatta mengajarkan kita bahwa wibawa tidak ditentukan oleh merek sepatu yang diinjak, melainkan oleh prinsip yang dijunjung tinggi di atas kepala.
Keteladanan lain datang dari Jenderal Hoegeng Iman Santoso, sosok Kepala Kepolisian Republik Indonesia yang namanya abadi sebagai simbol kejujuran tak tertembus. Jenderal Hoegeng menolak fasilitas rumah dinas megah dan barang-barang mewah yang ia anggap bukan haknya. Bahkan, ketika ia dilantik menjadi Kapolri, tindakan pertama yang ia lakukan adalah meminta sang istri untuk menutup toko bunga miliknya. Alasannya amat jernih: ia tidak ingin ada orang yang membeli bunga di toko istrinya hanya dengan niat mencari muka atau menyuap dirinya secara halus. Jenderal Hoegeng membuktikan bahwa kesederhanaan adalah perisai paling ampuh untuk menepis segala bentuk benturan kepentingan.
Di era yang lebih dekat dengan kita, ada sosok mendiang Artidjo Alkostar, mantan Hakim Agung yang palu sidangnya sangat ditakuti oleh para koruptor kakap. Di balik ketegasannya memberikan vonis berat kepada pencuri uang rakyat, Artidjo adalah sosok yang kesehariannya amat bersahaja. Ia tidak gila hormat, tidak tergiur dengan rumah mewah, dan lebih memilih mengendarai sepeda motor butut atau menumpang bajaj untuk bepergian. Kesederhanaan Artidjo membuatnya bebas dari rasa takut. Karena ia tidak memiliki keinginan duniawi yang berlebihan, tidak ada satu pun koruptor yang mampu membeli integritasnya dengan uang sebanyak apa pun.
Belajar dari tokoh-tokoh besar tersebut, kita menyadari bahwa gaya hidup sederhana adalah benteng terkuat melawan hasrat korupsi. Teori kejahatan finansial menyebutkan bahwa salah satu pemicu utama korupsi adalah tekanan keuangan. Ironisnya di zaman sekarang, tekanan keuangan yang menjerat seseorang sering kali bukan berasal dari kebutuhan dasar untuk makan atau biaya pendidikan, melainkan dari tuntutan gaya hidup demi sebuah validasi sosial. Ketika kita mulai membandingkan hidup kita dengan etalase pencapaian orang lain di dunia maya, di situlah rasa "kurang" mulai menggerogoti nalar sehat kita.
Menjadi sederhana berarti kita membeli apa yang kita butuhkan, bukan apa yang sekadar kita inginkan untuk mendapat pujian dari orang yang bahkan tidak kita kenal. Sederhana adalah tentang keaslian diri dan keberanian untuk memutus siklus konsumerisme. Seorang aparatur atau pekerja yang hidup sederhana akan berangkat kerja dengan langkah yang ringan. Ia tidak akan pusing memikirkan cicilan barang mewah yang menumpuk atau tagihan yang di luar batas kemampuannya. Karena pikirannya tenang dan tidak dikejar hutang gaya hidup, ia bisa mencurahkan seluruh energi dan fokusnya untuk berkarya dan memberikan pelayanan terbaik.
Pada akhirnya, kesederhanaan bukanlah sebuah pengekangan, melainkan sebuah kemerdekaan yang sejati. Ketika kita berani untuk hidup sederhana, kita sedang membebaskan diri kita dari rantai keserakahan yang tak berujung. Kita menjadi tuan atas harta kita, bukan menjadi budaknya. Mari kita terus dan tetap terus rayakan kesederhanaan dalam keseharian kita. Sebab, kemewahan tertinggi dari seorang manusia bukanlah pada seberapa banyak kekayaan yang bisa dipamerkannya, melainkan pada seberapa nyenyak ia bisa tidur di malam hari, karena ia tahu persis tidak ada sepeser pun hak orang lain yang ia ambil secara paksa.
Pangkalpinang
7 Agustus 2026