Oleh: Amar MZ -Penyuluh Antikorupsi


Melanjutkan pembahasan terhadap sembilan nilai integritas antikorupsi dalam akronim Jumat Bersepeda KK, sekarang sampai pada nilai keenam yang menjadi pengikat rasa kemanusiaan kita: Peduli. Jika kejujuran adalah kompas dan keberanian adalah keberanian bertindak benar, maka kepedulian adalah bahan bakar utama yang membuat seluruh instrumen integritas itu memiliki arti bagi sesama.


Dalam dunia kerja dan tata kelola pemerintahan, kepedulian sering kali dianggap sebagai urusan sampingan yang sering terabaikan dibanding capaian target formal. Padahal, peduli bukan sekadar perasaan iba atau sekadar mengucapkan kata-kata simpati saat melihat orang lain tertimpa kesusahan. Kepedulian sejati dalam integritas adalah kemampuan empati yang mendalam, sebuah kepekaan nurani yang membuat seseorang tidak tahan diam saat melihat ketidakadilan, penyimpangan, atau penderitaan orang lain, lalu bergerak melakukan tindakan nyata untuk memperbaikinya.


Cermin Kepedulian dari Tokoh Bangsa


Sejarah republik ini ditegakkan oleh sosok-sosok yang dada dan pikirannya penuh dengan kepedulian terhadap nasib rakyatnya. Kita bisa memetik pelajaran berharga dari kisah Dr. Cipto Mangunkusumo, seorang dokter sekaligus pejuang kemerdekaan yang namanya kini diabadikan sebagai nama rumah sakit rujukan nasional. Dr. Cipto adalah contoh sempurna dari nilai peduli yang melampaui batas kewajiban tugas.


Ketika wabah pes melanda wilayah Malang pada awal abad ke-20, banyak orang melarikan diri karena takut tertular penyakit mematikan tersebut. Namun, Dr. Cipto justru masuk ke pusat wabah tanpa memikirkan keselamatan jiwanya sendiri. Beliau merawat pasien-pasien miskin yang ditinggalkan, bahkan mengadopsi seorang bayi yatim piatu yang orang tuanya meninggal karena pes. Bagi Dr. Cipto, ilmu kedokteran dan jabatan bukan alat untuk menumpuk kekayaan, melainkan sarana untuk mengabdi kepada kemanusiaan. Kepeduliannya adalah tindakan nyata yang memprioritaskan keselamatan orang banyak di atas kenyamanan pribadi.


Tokoh lain yang tak kalah menginspirasi adalah Ki Hajar Dewantara. Kepeduliannya yang mendalam terhadap nasib rakyat jelata yang tidak bisa mengenyam pendidikan di masa penjajahan membuatnya merelakan fasilitas dan keistimewaan sebagai keturunan bangsawan. Beliau mendirikan Perguruan Taman Siswa agar anak-anak rakyat biasa bisa belajar dan memiliki masa depan yang lebih baik. Ki Hajar Dewantara mengajarkan kita bahwa kepedulian adalah keberanian untuk berbagi ruang dan kesempatan agar orang lain bisa tumbuh bersama kita.


Korupsi sebagai Bentuk Paling Nyata Hilangnya Empati


Jika dibedah secara mendalam, akar dari segala bentuk kejahatan korupsi sejatinya adalah matinya rasa peduli. Seorang pejabat yang nekat menggelembungkan anggaran pembangunan sekolah, memotong dana bantuan sosial, atau membiarkan infrastruktur publik dibangun asal-asalan adalah manusia yang telah kehilangan empati di dalam hatinya.


Mereka tidak peduli bahwa uang yang mereka rampok adalah harapan bagi anak-anak untuk mendapatkan ruang kelas yang layak. Mereka tidak peduli bahwa jalan raya yang rusak akibat pemotongan spesifikasi proyek bisa mencelakakan warga yang melintasinya. Ketika rasa peduli menguap, manusia hanya melihat dunia dari kacamata keuntungan pribadi, menjadikan orang lain sekadar angka atau objek yang bisa dieksploitasi. Oleh karena itu, menanamkan nilai peduli adalah penawar paling ampuh untuk mematikan benih-benih keserakahan.


Membumikan Kepedulian di Meja Pelayanan


Kepedulian di tempat kerja tidak harus selalu diwujudkan melalui aksi-aksi besar yang dramatis. Kepedulian bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari yang sangat sederhana di lingkungan birokrasi dan pelayanan publik.


Seorang aparatur yang peduli tidak akan membiarkan seorang warga lansia berdiri kebingungan di ruang tunggu pelayanan tanpa memberikan bantuan. Ia tidak akan tega membiarkan berkas permohonan masyarakat menumpuk berhari-hari di atas mejanya hanya karena malas, sebab ia tahu betul bahwa di balik setiap lembar kertas itu ada nasib dan harapan hidup seseorang yang sedang menanti kepastian.


Dalam skala hubungan antarrekan kerja, nilai peduli hadir dalam bentuk keberanian untuk saling mengingatkan (peer warning). Ketika melihat rekan sejawat mulai menunjukkan indikasi penyimpangan -seperti menerima imbalan tidak sah, sering membolos, atau memalsukan Laporan Pertanggungjawaban- seorang teman yang peduli tidak akan memilih diam. Ia akan menegur dan mengingatkan rekannya dengan cara yang baik sebelum kekhilafan kecil itu berubah menjadi kasus hukum yang merusak masa depan dan keluarganya.


Pada akhirnya, kepedulian adalah perekat sosial yang menjadikan birokrasi tersebut memiliki jiwa. Aparatur yang berintegritas bukanlah mesin tanpa perasaan yang hanya bekerja berdasarkan petunjuk teknis semata. Mereka adalah manusia-manusia yang memiliki kepekaan rasa, yang bekerja dengan hati nurani, dan senantiasa menanyakan pada diri sendiri di setiap awal hari: "Manfaat apa yang bisa saya berikan untuk orang lain hari ini?"


Pangkalpinang


10 Agustus 2026