Oleh: Amar MZ -Penyuluh Antikorupsi
Bukan Sekadar Urusan Otot
Melanjutkan seri bincang santai kita tentang sembilan nilai integritas antikorupsi (Jumat Bersepeda KK), kini kita sampai pada satu nilai yang sering kali membuat detak jantung berdebar lebih kencang: Berani. Kalau mendengar kata berani, mungkin yang terlintas di pikiran kita adalah sosok pahlawan super di film laga atau prajurit di medan perang. Namun, dalam dunia birokrasi dan pelayanan publik, keberanian wujudnya jauh lebih sunyi, minim sorotan kamera, tetapi efeknya sangat luar biasa.
Berani di lingkungan kerja bukanlah tentang menantang atasan adu fisik atau bersikap arogan. Keberanian sejati bagi seorang aparatur negara adalah kemampuan untuk mengatakan "Tidak" pada sesuatu yang salah, meskipun semua orang di sekelilingnya mengatakan "Iya". Ini adalah nyali untuk menolak amplop pelicin, menolak membubuhkan tanda tangan pada dokumen fiktif, dan menolak tunduk pada budaya ewuh pakewuh atau rasa sungkan yang berpotensi merugikan keuangan negara. Keberanian adalah melangkah keluar dari zona nyaman untuk membela kebenaran.
Belajar Ketegasan dari Sang Pendekar, Baharuddin Lopa
Untuk benar-benar memahami apa itu nyali dalam birokrasi, kita tidak perlu mencari tokoh fiktif. Indonesia memiliki salah satu figur paling legendaris yang namanya selalu harum ketika kita bicara soal keberanian dan antikorupsi: mendiang Baharuddin Lopa. Mantan Jaksa Agung dan Menteri Kehakiman ini adalah definisi hidup dari nilai "Berani".
Baharuddin Lopa dikenal sebagai aparat penegak hukum yang tidak punya rasa takut kecuali kepada Tuhan. Beliau berani mengusut kasus-kasus korupsi kelas kakap yang melibatkan penguasa dan konglomerat besar pada masanya, sesuatu yang sangat dihindari oleh pejabat lain karena risikonya yang mengancam jabatan hingga nyawa.
Keberanian Lopa lahir dari kemurnian niat dan kesederhanaannya. Ada satu kisah epik yang sangat terkenal. Suatu ketika, mobil dinas beliau diisikan bensin oleh seorang pejabat daerah yang sedang dikunjunginya. Begitu mengetahui hal tersebut, Lopa marah besar. Ia menyuruh sopirnya menyedot kembali bensin tersebut dan mengembalikannya saat itu juga. Bagi sebagian orang, menolak pemberian kecil seperti bensin mungkin dianggap kaku atau berlebihan. Namun bagi Lopa, keberanian menolak korupsi besar harus dimulai dari keberanian memotong kompromi pada hal-hal sekecil apa pun. Beliau paham betul, sekali kita membiarkan diri kita berutang budi, di saat itulah nyali kita untuk menegakkan kebenaran akan tergadaikan.
Keberanian di Meja Kerja Masa Kini
Di era sekarang, bagaimana kita mengaplikasikan keberanian ala Baharuddin Lopa di meja kerja kita? Tantangannya mungkin bukan lagi menghadapi ancaman fisik, melainkan ancaman pengucilan sosial. Sering kali, aparatur yang berani jujur justru dijauhi oleh rekan kerjanya, dianggap sok suci, atau bahkan dihambat jenjang karirnya.
Keberanian masa kini adalah nyali untuk menyuarakan inovasi yang mendobrak sistem kuno yang korup. Ketika Anda melihat ada prosedur pelayanan publik yang sengaja dibuat berbelit-belit agar masyarakat harus membayar calo, beranikan diri Anda untuk memangkasnya. Ketika ada rapat perencanaan anggaran dan Anda melihat ada pos belanja yang jelas-jelas hanya pemborosan, beranikan diri Anda untuk mengangkat tangan dan mengkritisinya dengan data yang valid.
Menjadi berani memang tidak selalu membuat kita populer. Namun, wibawa seorang abdi negara tidak dibangun dari seberapa banyak orang yang menyukainya, melainkan dari seberapa teguh ia memegang prinsip. Ingatlah, keberanian itu menular. Ketika satu orang saja berani berdiri dan menyuarakan kebenaran, ia akan memantik keberanian rekan-rekan lainnya yang selama ini mungkin hanya diam karena takut. Mari menjadi pemantik nyali itu di lingkungan kerja kita, karena birokrasi ini merindukan sosok-sosok yang berani melawan arus demi kebaikan.
Pangkalpinang
3 Agustus 2026