Masih banyak orang pada posisi bertanya apa itu sebenarnya gender? Dijawab atau tidak, responnya biasa-biasa saja. Keingin tahuannya tidak mendesak karena tidak akan ditanyakan diujian besok. Begitulah kira-kira gambaran masyarakat  tentang topik yang satu ini. Tidak  menarik singkatnya. Pada level pengetahuan umum pun gender tidak pernah dibahas untuk kemudian dinilai mana yang mengerti dari yang tidak sama sekali. 


Namun saya akan  mencoba me-mapping  letak atau lingkup gender dalam batasan atau definisi umum yang lebih  mudah untuk kita pahami.


 Jenis kelamin, cuma  ada dua  jenis mahluk manusia di bawah kolong langit ini yaitu laki dan perempuan. Jadi bicara gender berarti bicara tentang keduanya, pada semua level usia dan kondisi fisiknya. Sesungguhnya tidak ada yang istimewa antara satu jenis dari yang lainnya, tidak istimewa lagi bila memiliki kedua-duanya, sebab ini ranah takdir (kudroti) bukan pilihan orang perorang apalagi  hasil pesanan.


Maka kemudian pertanyaan besarnya adalah atas dasar  apa  satu jenis orang, klan atau etnis tertentu  merasa lebih tinggi  harkat dan derajatnya dari jenis lainnya ? Nasab darah biru dari warna aslinya? Perasaan semacam inilah sebenarnya harus kita buang jauh-jauh agar kita tidak  terkungkung dalam frame primordialisme yang membuat kita mundur jauh kebelakang, tidak maju-maju, terbuai dengan nama besar orangtua, kakek, buyut dan seterusnya dan  mencoba mengambil berkah dari itu, sangat tidak independen dan gentelmen.


Sadarlah  bahwa sebenarnya kualitas diri itu bukan pada garis keturunan dan jenis kelamin, tidak jg  ditentukan pihak lain apapun jenisnya, akan tetapi kualitas itu ada pada nilai dan kompetensi yang kamu miliki melalui kerja keras dan usaha sendiri.


Pada level ini jualan akar keturunan dan genelogi tidak laku. Lalu apa yang mesti kita banggakan dari suatu yang sifatnya  'kebetulan' semacam ini. Lebih jelasnya mari kita merujuk kepada firman Allah SWT;  yang artinya lebih kurang;


"Wahai manusia  kami ciptakan  kamu dari satu orang laki-laki dan satu orang perempuan kemudian kami jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah, adalah yang paling takwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui yang zohir dan  yang bathin (Q.S; al-Hujurot ;13 ).


Setidaknya ada beberapa hal yang masuk dalam kategori mafhum muwafak dari ayat  ini;


(pertama) bahwa kita semua umat manusia berasal dari satu orang laki dan perempuan. Yaitu Nabi Adam a.s. dan Hawwa.  Mereka  berdualah representasi manusia pertama sebagai cikal bakal nenek moyang kita semua, kecuali darwin cs dengan kedangkalan tesisnya.


Kita adalah anak cucu keturunan Nabi Adam. Jadi pada dasarnya kita ini adalah satu keluarga besar berasal dari ayah dan ibu yang sama. Karena itu sangat tidak pantas bila ada klaim satu anak lebih mulia dari lainnya, dan karenanya kita bersaudara.


(kedua) Bantahan terhada sikap  ta'assub jaahili, yang  selalu membawa dan bangga dengan  nama besar nenek moyang,  mengedepankan ego sektoral, membanggakan kedaerahan dengan segala keterbelakangannya. Dalam konteks kekinian tabiat seperti ini masih  bertahan dihangatkn oleh kelompok marginal tertentu karena ingin mengambil untung dari kondisi itu. Ibarat bom waktu sikap semacam  ini  berpotensi menimbulkan gesekan ditengah fakta kehidupan bangsa yang majemuk dan heterogen. 


(ketiga) ukuran kebaikan bukan pada garis keturunan dan jenis kelamin, akan tetapi parameternya adalah kualitas amal dan  takwa. Bangsa Arab tidak lebih baik dari Indonesia atau sebaliknya, maka harkat manusia itu ditentukan oleh manusia itu sendiri bukan faktor eksternal lainnya apalagi faktor nasib atau bawaan dari lahir, hal ini tidak boleh ada, dan mematikan potensi yang diberikan Allah swt.


(keempat) Allah Maha mengetahui zahir dan batin. Sedangkan ilmu kita sangat terbatas, sehingga manusia tak pantas dengan segala keterbatasan ini menjadi jumaha,  merasa lebih hebat dari yang lainnya, apalagi terhadap Allah SWT, yang telah menciptakan kita denga kuasaNya.