Memasuki usia 18 tahun wajah Provinsiku, hari ini, sejatinya sdh mulai menunjukkan tanda-tanda kedewasaan. Seukuran manusia normal diusia ini rasanya malu kalau masih 'ditugak' (disebut) anak-anak apalagi kekanak-kanakan. Artinya kita tidak bisa lagi berpretensi dengan segala kedunguan dan keculunan yg ada, atau apapun istilahnya.
Rentang waktu hmpir mendekati 2 dasawarsa ini lebih dari sekedar cukup untuk mewujudkan mimpi-mimpi dan memaksimalkan potensi sumber daya yang kita punya. Sudah 3 periode kepemimpinan daerah yang naik dan turun tahta, pemegang tongkat tertinggi amanah negeri.
Ada banyak capaian dan prestasi harus fair kita akui, namun ada beberapa titik lemah yang juga perlu dievaluasi untuk kita lbh baik lagi. Jangan sampai realitas hari ini diluar ekspektasi para pejuang yang telah rela mengorbankan dan mengambil semua risiko demi tegaknya provinsi ini.
"What do we have now?" Mungkin sebuah pertanyaan klise.
Sebenarnya sebagai Provinsi, kita tidak miskin-miskin amat. Sumber Daya Alam (SDA) kita, alhamdulillah, bisa dibilang cukup berlimpah. Sektor pertanian dan perkebunan kita, diantaranya bahkan sudah lama dikenal, punya brand dunia yaitu Muntok white pepper (lada putih) yang pernah berjaya dan menjadi magnet bagi kedatangan bangsa Eropa. Walaupun pada beberapa dekade terakhir mengalami phase kelesuan dan produksinya menurun tajam.
Sehingga baru-baru ini mulai diinisiasi dan dirintis untuk reborn kembali. Bumi dan perairan kita secara spesial juga kaya akan kandungan biji timah yg merupakan komoditi ekspor utama sejak dulu kala. Meskipun sangat ironis manfaatnya hanya dinikmati oleh segelintir orang atau korporasi. Malah setelah dieksploitasi isi buminya habis2an, sekarang hanya menyisakan lubang-lubang "camoi" (lubang bekas galian tambang) yang dibiarkan menganga begitu saja. Reklamasi belum menyentuh akar permasalahan sesungguhnya.
Sebagai Provinsi Kepulauan tentu kita punya kekayaan dan ekosistem laut yang sangat luar biasa. Namun kenyataannya tidak gampang untuk memperoleh ikan segar dan berkualitas di pasar-pasar, jika pun ada harganya selangit. Sehingga kita hanya mendapat jatah sisa, sedangkan yang super-super sdh diplot untuk tujuan ekspor manca negara, sangat miris memang.
Garis pantai kita yg luas dan indah menjadi daya tarik tersendiri di bidang pariwisata, bila ini dikelola dengan baik tidak mustahil kita akan menjelma sebagai destinasi wisata dunia. Ketersediaan infrastruktur dan fasilitas yang memadai, menjadi sebuah keniscayaan disamping faktor promosi dan unsur penunjang lainnya yang saling melengkapi. Maksudnya, kalau hanya mengandalkan keindahan alam saja, mungkin orang akan cepat merasa bosan, namun akan lestari bila didukung dengan keelokan adat istiadat dan kearifan budaya lokal secara simultan.
Letak provinsi ini strategis, 1 jam penerbangan dari ibu kota negara tentu menarik minat banyak orang untuk berkunjung dan menghabiskan masa liburnya di sini. Dampaknya bagi geliat perekonomian akan dirasakan oleh seluruh komponen anak negeri cepat atau lambat.
Pada akhirnya manakala semua pihak memahami peran dan tanggungjawabnya, vertikal maupun sosial, maka kesejahteraan menjadi kado terindah di episode ke-18 ini. Ibarat ajang pencari bakat untuk serial TV, kita urang (orang) Bangka Belitung ini tidak semua diterima sebagai pemain karena harus lolos casting dulu dan sebagainya, namun menjadi penontonpun kita juga tidak boleh kehilangan momentum dan progress pada setiap episodenya. Dirgahayu Provinsiku.