Pangkalpinang - Dr. Asyraf Suryadin, M.Pd Kepala DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berharap ada komitmen bersama untuk mewujudkan Sekolah Ramah Anak (SRA). Keberadaan sekolah ramah anak ini bisa mendukung terwujudnya kabupaten layak anak.

"Sekolah ramah anak mendukung kabupaten/kota layak anak," jelasnya saat menyampaikan materi pada kegiatan Webinar Satuan Pendidikan Ramah Anak, via Zoom Meeting dan channel YouTube DP3ACSKB Babel, Kamis (17/2/2022).

Sementara ini Kabupaten Bangka Selatan belum mendapat predikat kabupaten layak anak. Asyraf berharap tahun ini Kabupaten Bangka Selatan mendapatkan predikat kabupaten layak anak.

Keberadaan sekolah ramah anak memberikan kesempatan anak beraktivitas dan berpartisipasi. Dijelaskan Asyraf, sekitar 1/3 waktu anak di sekolah. Adanya sekolah ramah anak bisa mengurangi risiko tindak kekerasan, napza, rokok, radikalisme, bangunan yang tak layak.

"Sekolah ramah anak tidak menggunakan pagar berduri. Tak hanya itu, sebab di sekolah tersebut juga tidak boleh ada tanaman berduri," ungkapnya.

Saat ini Bangka Belitung baru mempunyai 9,4 persen sekolah ramah anak. Sejumlah sekolah itu ada sembilan di Kabupaten Bangka, 60 di Pangkalpinang, 92 di Kabupaten Bangka Tengah, 38 satuan di Kabupaten Bangka Selatan.

Sedangkan 53 sekolah ramah anak lainnya tersebar di Kabupaten Belitung 41 SRA, dan 12 satuan di Kabupaten Belitung Timur. Sedangkan di Kabupaten Bangka Barat belum memiliki sekolah ramah anak.

Sebelumnya Ervawi, S.Pd., M.Pd., M.M, Plt. Kepala Dindik Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengatakan, perlu membuat plang di sekolah yang menyatakan sekolah tersebut ramah anak. Ini bagian dari komitmen, selanjutnya diimbau pihak sekolah membuat program untuk mewujudkan sekolah ramah anak.

"Kita harap sekolah ramah anak bukan hanya slogan, namun ada implementasinya. Sebab ada legalitas untuk sekolah ramah anak ini," ungkapnya.

Lebih jauh ia menjelaskan tujuan dari sekolah ramah anak. Menurutnya, sekolah ramah anak mencegah kekerasan terhadap anak. Selain itu, bisa menciptakan hubungan yang baik, akrab dan berkualitas dengan sekolah. Anak-anak juga akan terbiasa dengan hal-hal positif.

"Sekolah ramah anak bisa mencegah kecelakaan di sekolah yang disebabkan prasarana. Anak juga mempunyai wadah untuk mengekspresikan kemampuan, bakat dan minatnya," papar Ervawi.

Triyudo Hendro dari SMKN 1 Manggar peserta kegiatan mengungkapkan kesulitan dalam membuat komitmen mewujudkan sekolah ramah anak. Menjawab ini, Asyraf mengatakan, mengubah karakter membutuhkan waktu dan memerlukan pelatihan.

"Contohnya, memberikan penghargaan kepada siswa yang peduli terhadap lingkungan. Dalam hal ini guru diberikan peran untuk menilai siswa tersebut," saran Asyraf.