Pangkalpinang - Angka prevalensi stunting di Bangka Belitung berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2019 berada di angka 19,93. Lalu angka tersebut turun di tahun 2021 menjadi 18,6. Salah satu strategi penanganan stunting di Bangka Belitung yakni, dengan membuat pola pikir para ibu beserta keluarganya agar memperhatikan asupan gizi bagi anak. 

Dr. Asyraf Suryadin, M. Pd Kepala DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengatakan, terdapat tim percepatan penurunan angka stunting. DP3ACSKB mengambil peran menangani masalah perilaku ibu dan anak. Selain mengubah pola pikir, juga mengedukasi para ibu beserta keluarganya. 

"Masyarakat yang ada di lingkungan pesisir, kita mengedukasi anak-anak untuk gemar makan ikan. Meedukasi ibu-ibu agar dapat membuat abon ikan dan anak-anaknya diberikan abon ikan tersebut bersama lauk pauk lainnya," kata Asyraf saat wawancara bersama dengan TVRI Bangka Belitung di ruang kerjanya, Selasa (10/1/2023).

Untuk masyarakat jauh dari pesisir, kata Asyraf, pemenuhan asupan gizi bagi anak bisa dengan mengkonsumsi daging ayam atau sayuran. Edukasi mengenai asupan gizi bagi anak ini secara terus menerus dipantau. Pemantau ini dengan cara kunjungan langsung ke lapangan. 

Membutuhkan waktu untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. Asyraf menjelaskan, tujuannya agar anak-anak memiliki kemampuan dan kecerdasan. Edukasi juga disampaikan ke pihak desa, dan pihak desa membuat Peraturan Desa mengenai  pernikahan usai anak . 

"Pernikahan usia anak menjadi salah satu penyebab kasus stunting. Ada juga upaya menjalankan program bapak asuh bagi beberapa anak-anak," ungkapnya.