Pangkalpinang - Anak didik di SMA Muhamadiyah berbeda dengan siswa didik di SMA lainnya.  Sebab anak SMA Muhammadiyah tidak hanya mendapatkan pendidikan umum, namun juga mendapatkan pendidikan agama. Ilmu agama dibutuhkan dimanapun berada.

Demikian disampaikan Dr. Asyraf Suryadin, M.Pd Kepala DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat bertindak sebagai pembina upacara di SMA Muhammadiyah, Senin (7/8/2023).

"Anda harus memiliki nilai tambah di antaranya kemampuan agama yang lebih baik. Ini menjadi pondasi untuk bisa hidup di mana saja, sebab agama itu dasarnya," ungkapnya.

Asyraf bangga menjadi alumni SMA Muhammadiyah. Menurutnya, sebagai generasi penerus harus mempunyai rasa nasionalisme tinggi. Anak-anak menjadi bagian dari peradaban yang mesti mampu menghadapi segala persoalan.

Salah satu persoalan tersebut yakin, pernikahan usia anak. Asyraf berharap, siswa SMA Muhammadiyah tidak melakukan perkawinan usia anak. Perkawinan usai anak menimbulkan berbagai dampak buruk seperti penyebab kasus stunting.

"Sampai saat ini kita masih menghadapi berbagai permasalahan terkait sumber daya manusia di antaranya stunting dan perkawinan anak," jelas Asyraf. 

Menyinggung mengenai usai pernikahan,  Asyraf menjelaskan, usia ideal perempuan menikah umur 21 tahun dan untuk laki-laki 25 tahun. Hendaknya tidak melakukan pernikahan usia anak, sebab ini akan merugikan perempuan.

Kemajuan teknologi komunikasi harus dimanfaatkan secara bijak. Asyraf menambahkan, jangan sampai smartphone digunakan untuk ajang mencari jodoh. Namun jadikan smartphone sebagai alat pembelajaran.

"Smartphone harus menjadi alat pembelajaran, jangan digunakan sebagian alat yang bisa mendatangkan atau menyebabkan perbuatan tercela," pesannya.