Pangkalpinang - Target nasional penurunan stunting hingga tahun 2024 sebesar 14 persen. Untuk Bangka Belitung ditargetkan menurun hingga 10,38 persen. Upaya mengatasi stunting dengan mengintervensi gizi spesifik (intervensi kepada anak pada 1000 hari pertama kelahiran) dan intervensi gizi sensitive (intervensi pendukung).

Dr. Asyraf Suryadin, M.Pd Kepala DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengatakan, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah menindaklanjuti Perpres No 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting dan telah membentuk Tim Percepatan Penurunan Stunting.

"Tim ini terdiri dari institusi vertikal, OPD terkait di lingkungan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, akademisi, organisasi profesi serta lembaga masyarakat yang berperan dalam upaya penurunan stunting," jelasnya saat menjadi narasumber Acara Jendela Negeri TVRI Babel, di Puskesmas Pembantu Opas Indah, Senin (16/1/2023).

Menurut Asyraf, tim ini telah melakukan upaya baik secara formal maupun informal dan sudah melakukan rencana aksi percepatan penurunan stunting melalui sinergisitas program kegiatan OPD, organisasi profesi serta lembaga masyarakat pada tahun 2022.

"Kita terus melakukan monitoring dan evaluasi dalam upaya meningkatkan kinerja tim percepatan penurunan stunting ini. Melakukan advokasi, dan komunikasi,  infomasi, edukasi (KIE) pencegahan stunting baik melalui media maupun secara langsung ke masyarakat," jelasnya.

Upaya yang dilakukan antara lain, promosi pencegahan stunting kepada remaja melalui kegiatan talkshow di sekolah sekolah. Ia menambahkan, kegiatan tersebut melibatkan media dalam promosi pencegahan stunting dengan melakukan talkshow dan dialog di radio, surat kabar. 

Selain itu, membuat iklan layanan masyarakat yang berkaitan dengan pencegahan stunting. Tak hanya itu, jelasnya Asyraf, ada juga tim pendamping keluarga (kerja sama dengan BKKBN). Tim ini terdiri dari bidan, kader KB dan PKK yang merupakan tenaga lini lapangan yang mendampingi ibu hamil dan menyusui untuk mendapatkan gizi seimbang.

Stunting sangat erat kaitannya dengan perkawinan anak. Asyraf menjelaskan, upaya lainnya yang dilakukan adalah pencegahan perkawinan usia anak dengan penguatan regulasi. Ada juga Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) di empat kabupaten.

"DRPPA ini merupakan salah satu upaya percepatan penurunan angka perkawinan anak, dimana salah satu indikator keberhasilannya adalah zero angka perkawinan anak," tegasnya.

DP3ACSKB juga melakukan penguatan kemitraan bersama PIK R dan Forum Anak, Duta Genre dan Duta Anak dalam upaya mensosialisasikan program pendewasaan usia perkawinan. Membuat media Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) pencegahan stunting dan persiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja.

"Kegiatan ini menggunakan media booklet, leaflet, banner, souvenir seperti tas dan kaos," kata Asyraf.

Menyinggung mengenai asupan gizi bagi anak-anak, Asyraf menjelaskan, dengan mengoptimalkan peran tim pendamping keluarga yang merupakan ujung tombak program pencegahan dan penanganan stunting di lapangan. 

"Kita tidak bisa sendiri melakukan ini, oleh karenanya perlu bekerja sama dengan BKKBN untuk memastikan program tersebut berjalan," tandasnya.