PANGKALPINANG - Sukses mewisuda siswa Sekolah Perempuan Sekuntum Melati angkatan pertama, kegiatan yang dimotori DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini bakal kembali meluncurkan Sekolah Perempuan angkatan kedua. Tahun lalu, sebagai pilot projek yakni Desa Jelutung Dua Kabupaten Bangka Selatan dan Desa Rukam Kabupaten Bangka.
Sedangkan tahun ini, sudah terpilih Desa Tanjung Gunung Kabupaten Bangka Tengah dan Desa Pangkalan Beras Kabupaten Bangka Barat sebagai daerah target pelaksanaan kegiatan Sekolah Perempuan Sekuntum Melati.
Melati Erzaldi Penggagas/Ketua Sekolah Sekuntum Melati Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bangga dengan keberhasilan siswa angkatan pertama. Sebab beberapa perempuan yang ikut kegiatan ini sudah bisa menjalankan usaha rumahan. Sekolah ini bertujuan untuk membuat perempuan unggul dan maju.
"Ini bukan sekolah formal, namun sebagai wadah pendidikan bagi perempuan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kegiatan ini bisa kita lakukan tanpa ada anggaran," jelasnya saat Rapat Evaluasi dan Rencana "Sekuntum Melati" di Ruang Rapat Tanjung Pendam, Kantor Gubernur, Jumat (28/5/2021).
Kegiatan ini secara langsung dihadiri Wakil Bupati Bangka Tengah, Herry Arfian, ST. Ini menjadi salah satu bukti dukungan terhadap kemajuan kaum perempuan. Sebagaimana diketahui, Desa Tanjung Gunung Kabupaten Bangka Tengah menjadi salah satu desa tempat menggelar Sekolah Perempuan.
Terpilihnya dua desa sebelumnya, harap Melati Erzaldi, bisa menjadi motivasi bagi perempuan di desa dan daerah lain di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Memang ada proses dan upaya pemberdayaan perempuan. Semula terdata 208 siswa, namun yang diwisuda150 siswa dari dua desa. Ini menjadi bagian seleksi alam.
Pandemi covid-19 tak bisa kompromi dan ini mempengaruhi proses belajar siswa Sekolah Perempuan. Kendati demikian tak menyurutkan semangat. Sebab hasil kerja keras tersebut sudah mencetak perempuan lebih berdaya. Beberapa siswa sudah bisa menunjukan produk anyaman dan sejumlah kerajinan rumahan lainnya.
"Perempuan berdaya Indonesia maju, ini kata kuncinya. Lanjutan kegiatan ini diharapkan bisa bermanfaat bagi perempuan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung," jelasnya.
Wakil Bupati Bangka Tengah, Herry Arfian, ST akan memberikan perhatian lebih terhadap pelaksanaan kegiatan Sekolah Perempuan ini. Diharapkan dengan adanya sekolah ini membuat perempuan berdaya dan bisa meningkatkan potensi diri.
Ia mencontohkan, dengan adanya pandemi covid-19 membuat potensi perempuan muncul. Jadi tidak hanya untuk kepentingan peningkatan kesejahteraan saja, tapi bisa juga sebagai pencipta karakter berwirausaha. Pembentukan karakter harus diberikan ibu kepada anaknya.
"Diharapkan Pak kades bisa memberikan dukungan dan semangat yang positif terhadap Sekolah Perempuan ini. Desa Tanjung Gunung merupakan desa yang sangat tepat sebagai lokasi sekolah perempuan," tegasnya.
Sementara Kepala DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Dra. Susanti, M.AP menjelaskan, pemberdayaan perempuan sangat penting. Sebab kemajuan suatu daerah sangat dipengaruhi kemampuan perempuan. Untuk itu sangat diperlukan langkah-langkah konkrit.
Desa yang terpilih sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan lanjutan yakni, Desa Tanjung Gunung Kabupaten Bangka Tengah dan Pangkalan Beras Kabupaten Bangka Barat. Menurut Kepala DP3ACSKB, dalam waktu dekat akan dilaksanakan launching kedua Sekolah Perempuan Sekuntum Melati tersebut.
"Jika kepala daerah memberikan perhatian kepada perempuan, maka daerah tersebut akan lebih cepat maju. Ini bukan sekolah formal, namun diharapkan bisa meningkatkan kemampuan perempuan. Selain itu bisa memberdayakan perempuan," ungkapnya.
Tercipta Kelompok Usaha
Kepala Sekolah Sekuntum Melati di Desa Jelutung Dua, Dr. Muslim El Hakim menjelaskan, pembelajaran di sekolah ini terdapat 23 modul pengajaran. Namun dampak pandemi covid-19 membuat beberapa materi tersebut tidak bisa disampaikan secara tatap muka.
Pandemi covid-19 membuat proses belajar menjadi sedikit terganggu. Kendati demikian, secara umum sudah ada progres positif dari siswa Sekolah Perempuan. Selain itu, selama proses pembelajaran juga masih terjadi keterbatasan peralatan, namun sudah sedikit teratasi dengan ada beberapa bantuan.
"Sekarang ini sudah ada beberapa kelompok usaha di antaranya, kelompok usaha perempuan di bidang boga, menyulam, anyaman dan ikan air tawar. Sebanyak 67 persen siswa ini merupakan ibu rumah tangga," paparnya.