Pangkalpinang - Dr. Asyraf Suryadin, M.Pd Kepala DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyarankan kepada tim Sekolah Perempuan Sekuntum Melati agar bisa memberikan kesan pertama meyakinkan kepada peserta. Sehingga berangkat dari kesan tersebut bisa membangkitkan selera peserta untuk terus mengikuti proses pembelajaran.
"Kepala Sekolah Perempuan Sekuntum Melati diharapkan bisa membuat jadwal untuk datang ke lokasi pembelajaran, kendati tidak pada setiap kegiatan pembelajaran," harapnya saat Rapat Pembuatan Jadwal Tatap Muka Sekolah Perempuan Sekuntum Melati, Angkatan II, di ruang Pertemuan DP3ACSKB Babel, Selasa (6/7/2021).
Kegiatan ini dilaksanakan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Asyraf mengatakan, target pembelajaran ini merupakan orang dewasa. Untuk itu harus ada trik tersendiri untuk menarik minat orang dewasa untuk belajar. Proses pembelajaran ada baiknya memperbanyak kegiatan diskusi.
"Kita harus bisa menyentuh hatinya, sehingga peserta bisa betah. Sekolah Perempuan Sekuntum Melati sudah dimasukkan menjadi salah satu inovasi," jelasnya.
Sebagaimana diketahui, ada dua desa menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan Sekolah Perempuan Sekuntum Melati tahun ini. Dua desa tersebut di antaranya, Desa Tanjung Gunung, Kabupaten Bangka Tengah dan Desa Pangkal Beras Kabupaten Bangka Barat.
Proses pengajaran menggunakan tutor, artinya harus ada modul. Ia menjelaskan, tutor tetap memperhatikan persoalan yang dihadapi peserta belum bisa membaca. Peserta yang belum bisa membaca jangan ditinggalkan, tetap dibimbing. Tak kalah penting dua sekolah ini harus ada kesamaan gerak dan langkah.
"Harus melihat kondisi di daerah masing-masing. Kalau bisa, jadikan peserta selalu ingin datang ke sekolah. Kalau tutor tidak bisa hadir saat jadwal pembelajaran, maka bisa digantikan oleh kepala sekolah atau wakil kepala sekolah di daerah setempat," sarannya.
Jika memberikan pelajaran mengenai pemasaran online, maka harus dipikirkan juga di daerah setempat harus ada jaringan internet. Selanjutnya, kata Kepala DP3ACSKB, begitu juga ketika memberikan materi, pelajaran bahasa asing. Hendaknya disesuaikan dengan kemampuan peserta. Materi yang disampaikan hanya untuk percakapan sehari-hari.
"Pembinaan harus terus dilakukan, sehingga peserta bisa mengaplikasikan hasil pembelajaran. Begitu juga dengan peserta Sekolah Perempuan Sekuntum Melati angkatan pertama," tegasnya.