Pangkalpinang - DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah mulai mempersiapkan Sekuntum Melati angkatan ke III. Sedikitnya ada tiga lokasi tempat pelaksanaan sekolah tersebut di antaranya, Kabupaten Belitung, Belitung Timur dan Kota Pangkalpinang.

Dr. Asyraf Suryadin, M.Pd Kepala DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengatakan, launching sekolah perempuan dan wisudanya untuk yang di Kabupaten Belitung dan Beltim dibuat terpisah dengan yang di Kota Pangkalpinang. Kegiatan ini tidak bisa digabungkan karena terkendala jarak.

"Khusus Kota Pangkalpinang pembukaan dan wisuda akan dilaksanakan tersendiri," kata Asyraf saat rapat persiapan Sekuntum Melati di Aula Kecamatan Giri Maya, Pangkalpinang, Kamis (20/1/2022).

Hadir dalam rapat persiapan Sekuntum Melati di Kota Pangkalpinang, Sekcam Girimaya, Kabid PPA Dinas P2KBP3A Kota Pangkalpinang Pandiar, SH, Kabid Pemberdayaan Perempuan, JFT Analis Kebijakan dan Perencana Ahli Muda DP3ACSKB Babel.

Selain itu hadir juga peserta rapat dari lima kelurahan di Kecamatan Girimaya dan perwakilan tujuh kecamatan se-Pangkalpinang.

Lebih jauh Asyraf menyampaikan tentang maksud dan tujuan serta sasaran dari pelaksanaan sekolah perempuan. Nanti peserta bisa digabung dari beberapa kelurahan yang ada di Kota Pangkalpinang.

Sekuntum Melati berupaya membentuk karakter, kemandirian, kewirausahaan perempuan dan peningkatan ekonomi keluarga sesuai salah satu arahan Presiden kepada PPPA yaitu peningkatan pemberdayaan kewirausahaan perempuan. 

Diharapkan potensi yang ada di kelurahan-kelurahan di Kota Pangkalpinang ini untuk dapat disampaikan dan diusulkan melalui Dinas P2KBPA KOTA Pangkalpinang ke provinsi untuk kemudian dipilih menjadi lokus definitif Kota Pangkalpinang dengan target peserta 50 perempuan. 

Rangkaian persiapan sekolah perempuan di antaranya, identifikasi, menyerap harapan dan kekhawatiran calon peserta sekolah perempuan dan kesepakatan belajar yang partisipasi. Ideasi, menerjemahkan harapan dan kekhawatiran peserta ke dalam materi pembelajaran serta pagian tugas guru/fasilitator.

Selanjutnya, validasi yakni pokok bahasan memvalidasi hasil ideasi dengan kab/kota, pemerintah Desa lokus sekolah perempuan. Selanjutnya, konsolidasi melaksanakan konsolidasi dengan berbagai pihak terkait, waktu pembelajaran, lokasi pembelajaran, perizinan pertemuan tatap muka.

Kemudian finansialisasi dengan mencari sponsor untuk mendukung terlaksananya kegiatan belajar mengajar sebanyak 12 kali pertemuan, dan peserta yang sudah dilatih mendapat kesempatan modal usaha seperti KUR dari lembaga terkait.

Tak kalah penting, berkolaborasi, menggalakkkan penta helix yaitu dengan akademisi, media, dunia usaha, bantuan dari mitra terkait.  Untuk replikasi, setelah percontohan di tujuh desa di kab/kota akan di replikasi di desa lain di Bangka Belitung, sehingga sekolah perempuan bisa menjadikan perempuan-perempuan mandiri dan terlatih dapat tersebar merata di seluruh Bangka Belitung.

Menjawab pertanyaan siapa saja yang bisa menjadi peserta, apakah ada batasan umur peserta serta apakah pegawai kelurahan dapat juga mengikuti kegiatan yang ada seperti menjahit, menyulam dan kegiatan lainnya, Asyraf menjelaskan, tahun kemarin peserta termuda berumur 16 tahun dan yang tertua berusia 65 tahun.

"Jadi tidak ada batasan umur selama memegang komitmen untuk dapat mengikuti proses pembelajaran selama sekitar 12 kali pertemuan. setiap tahun Sekuntum Melati selalu berbenah agar semakin baik untuk proses pelaksanaannya," jelasnya.