PANGKALPINANG - Puluhan pejabat eselon III dan IV di lingkungan DP3ACSKB dan Satpol PP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengikuti kegiatan Pembinaan dan Pencegahan Tindak Pidana Korupsi, Selasa (21/7/2020). Diharapkan sejumlah pejabat ini mengetahui dan dapat mengindari tindakan korupsi.

Ranu Miharja, SH, M.Hum Kepala Kejaksaan Tinggi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengatakan, manusia mempunyai potensi melakukan tindakan korupsi mulai dari lahir hingga meninggal dunia. Saat kelahiran anak, masih ada orangtua menggunakan uang pelicin untuk cepat mendapatkan akte kelahiran.

"Karena tidak mau ikut antre membuat akta kelahiran, maka memberikan uang pelicin," kata Ranu saat menyampaikan materi di Ruang Pertemuan Pasir Padi, Kantor Gubernur, Selasa (21/7/2020).

Tampak hadir dalam kegiatan ini, Kepala DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Dra. Susanti, M.AP dan Yamowa Harefa Kasatpol PP Bangka Belitung.

Lebih jauh Ranu menjelaskan, tindakan korupsi kembali dilakukan ketika anak akan masuk sekolah. Untuk mendapatkan sekolah unggulan, terkadang orang tua mau melakukan apapun. Termasuk perbuatan yang mengarah pada tindakan korupsi.

Begitu juga ketika sedang sakit, orang bisa melakukan perbuatan tindak korupsi bekerja sama dengan pihak penyedia jasa kesehatan. Dikatakan Ranu, hingga meninggal pun, manusia masih berpotensi melakukan tindakan tersebut. 

"Saat masih kecil, orangtua melakukan korupsi demi anaknya. Kemudian ketika sudah tua, anaknya melakukan tindakan korupsi demi orangtua," jelasnya.

Indonesia mempunyai kekayaan berlimpah. Ia menambahkan, kekayaan tersebut belum bisa membuat terbebas dari persoalan pengangguran dan kemiskinan. Ini dikarenakan belum bisa mengelola kekayaan tersebut secara benar. 

"Indonesia sangat kaya, terutama kekayaan alam, tambang emas terbesar begitu juga dengan tambang lainnya. Tanah subur dan kaya akan rempah-rempah," jelasnya.

Penanganan korupsi menjadi tanggung jawab semua pihak. Ranu menjelaskan, banyak orang kaya mendapatkan kekayaan dari hasil korupsi. Ironisnya, pelaku korupsi kebanyakan mempunyai pendidikan tinggi. Ini mungkin dikarenakan tidak tahu telah melakukan tindakan korupsi.

"Korupsi bukan hanya melakukan penggelapan uang negara, namun banyak langkah-langkah yang merupakan tindakan korupsi. Terjadi kemiskinan, pengangguran dan sebagainya dikarenakan banyak terjadinya korupsi," tegasnya.