Pangkalpinang - Sekolah perempuan Sekuntum Melati untuk kegiatan tahun 2022 lebih mengarah ke praktik. Komposisi pembelajaran 30 persen teori, dan 70 persen praktik. Diharapkan pembelajaran tersebut dapat memberikan materi secara fokus. 

Hal ini bertujuan agar peserta didik Sekuntum Melati langsung bisa memanfaatkan keahliannya membuat, mengemas hingga memasarkan produk tersebut.

Dr. Asyraf Suryadin, M.Pd Kepala DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyarankan, dalam memberikan materi pembelajaran bisa menjalin kerja sama dengan pihak terkait. Kalau bisa, stakeholder itu menerbitkan sertifikat bagi peserta didik Sekuntum Melati.

"Contohnya, jika peserta mengikuti pelatihan menjahit. Maka peserta itu mendapatkan sertifikat," kata Asyraf saat Rapat Persiapan Pembelajaran Sekolah Perempuan Angkatan ke-3 Tahun 2022 via Zoom Meeting, di DP3ACSKB Babel, Senin (18/4/2022)

Sertifikat yang diberikan kepada peserta, saran Asyraf, dibuat keterangan berapa lama waktu mengikuti pelatihan. Sekarang ini, pemberian sertifikat bisa dilakukan secara digital. 

Diakhir pendidikan tidak hanya ijazah saja yang diterima, tetapi ada juga sertifikat berdasarkan materi yang diterima, terutama materi dari lembaga lain. Peserta didik hendaknya mengikuti pelatihan secara fokus, sehingga materi bisa diserap dengan baik.

Pemberian materi pembelajaran disesuaikan dengan murid Sekuntum Melati. Asyraf menjelaskan, peserta didik Sekuntum Melati yang akan menerima materi pelatihan ini sebagai besar orang tua. Untuk itu, perlu pengembangan dan penyesuaian materi.

Sebagaimana diketahui, pelaksanaan Sekuntum Melati tahun ini berada di Kabupaten Belitung tepatnya di Desa Tanjung Binga, Kecamatan Sijuk. Selain itu di Kabupaten Belitung Timur berada di Desa Mentawak, Kecamatan Damar dan Desa Nyuruk, Kecamatan Kelapa Kampit.

Terdapat beberapa usulan materi pembelajaran. Usulan untuk Desa Tanjung Binga yaitu, membuat kue, pengolahan ikan dan menjahit. Sementara di Desa Nyuruk, menginginkan materi pelatihan anyaman lais dan bambu, rias pengantin, pembuatan kue kering serta menjahit.

Sedangkan usulan materi pembelajaran untuk Desa Mentawak, pelatihan budidaya manisan pepaya, pengolahan ikan dan membuat kue. Asyraf menyarankan, untuk pelatihan pembuatan kue kering ada baiknya membuat kue khas daerah. 

"Selain bisa membuat produk, juga harus mampu mengemas produk hingga melakukan pemasaran. Pemasaran dapat dilakukan secara online," ungkapnya.

Untuk tenaga pengajar, kata Asyraf, sudah bisa mulai menyusun administrasi pembelajaran dengan baik dan lengkap. Melaksanakan kegiatan proses pembelajaran dan melaksanakan evaluasi kegiatan proses pembelajaran. 

"Pengajar juga melaksanakan penilaian kegiatan proses pembelajaran, membuat laporan tentang hasil kegiatan proses pembelajaran serta mengisi daftar nilai peserta didik," jelasnya.