Pangkalpinang - Literasi didekatkan kepada anak sejak dini. Pasalnya anak diharapkan dapat memegang tongkat estafet literasi di Bangka Belitung. Selain menyediakan bacaan bermuatan kearifan lokal, strategi meningkatkan literasi mesti bermitra dengan orang tua dan guru. 

Dr. Asyraf Suryadin, M.Pd Ketua Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengatakan, anak merupakan peniru ulung. Jadi perlu peran orang tua dan guru memberikan contoh kepada anak.

"Harus bisa menyediakan bahan bacaan sesuai konten anak-anak. Untuk itu perlu mendorong penerbitan buku lokal," kata Asyraf saat wawancara di acara Dialog 21, TVRI Kepulauan Bangka Belitung, Selasa (4/4/2023).

Menurut Asyraf yang juga menjabat Kepala DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini, penerbitan buku lokal belum banyak, begitu juga penulis buku lokal. Untuk menerbitkan buku lokal bisa melakukan pendekatan ke masyarakat untuk mengumpulkan cerita daerah.

Jadikan membaca menjadi sebuah kebutuhan. Lebih jauh Asyraf menambahkan, guru hendaknya menulis dan menerbitkan buku, sehingga bisa menjadi kebanggaan bagi muridnya. Hal ini bagian upaya menggali potensi penulis daerah. 

"Kondisi kesusasteraan di Bangka Belitung masih pasang surut. Sekarang ini hanya digerakkan beberapa komunitas saja. Sangat perlu pengembangan sastra anak dengan di dukung keberadaan pemerintah daerah," ungkapnya. 

Hal senada disampaikan Bambang Trimansyah Penulis dan Pemerhati Buku. Menurutnya, kesadaran literasi sudah muncul, namun untuk mendorongnya perlu dimulai dari anak-anak. Agar anak mau membaca dibutuhkan penulis buku berkompeten. 

Sementara Kepala KBP Babel Muhammad Irsan menjelaskan, kondisi literasi di Bangka Belitung masih perlu ditingkatkan. Sasarannya anak-anak PAUD, SD hingga SMA. Untuk itu, penulis membuat buku sesuai dengan keinginan anak-anak. 

"Kita mempunyai duta bahasa yang ditugaskan menggerakkan literasi di Kepulauan Bangka Belitung. Kita juga menggelar sayembara-sayembara penulisan," jelasnya.