PANGKALPINANG-- Guna meningkatkan pengetahuan tentang pengarusutamaan gender dan pengarusutamaan hak anak serta meningkatkan ketrampilan dalam melakukan pencegahan dan penanganan isu perempuan dan anak, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Kependudukan Pencatatan Sipil dan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DP3ACSKB) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memfasilitasi kegiatan pelatihan Pengarusutamaan Gender (PUG) & Pengarusutamaan Hak Anak (PUHA) bagi lembaga profesi dan dunia usaha selama dua hari Senin-Selasa (8-9/7/2019) di Hotel Novotel Bangka Tengah.
Kegiatan ini dibuka langsung oleh Kepala DP3ACSKB Provinsi Bangka Belitung Susanti. Dalam sambutannya Susanti mengatakan bahwa pelatihan PUG dan PUHA ini merupakan bagian tak terpisahkan dari komitmen bersama untuk meningkatkan kondisi sosial kita yang responsif gender.
"Ada empat pilar yang sama-sama memiliki peran penting dalam pelaksanaan PUG dan PUHA ini yaitu pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan media yang harus saling bersinergi" tandasnya.
Lebih lanjut dijelaskan Susanti bahwa keterlibatan masyarakat dalam menangani pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak ini sudah dituangkan dalam Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Nomor 2 Tahun 2017 tentang partisipasi masyarakat dalam pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak pasal 3 yang menyatakan partisipasi masyarakat dalam pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dilaksanakan melalui strategi PUG dan PUHA.
"Kita semua menyadari bahwa beban berat dan kompleksitas persoalan terhadap kaum perempuan dan anak sehingga memerlukan tanggung jawab dari kita semua untuk bersama mencari solusi dan jalan keluar agar tidak ada lagi anak bangsa yang termarginalkan" ujarnya.
Kegiatan yang didukung oleh dana dekon Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI (KPPPA) ini menghadirkan narasumber Asisten Deputi Kesetaraan Gender Bidang Partisipasi Lembaga Profesi dan Dunia Usaha KPPPA RI Sri Prihantini Lestari Wijayanti dan pakar gender Prof. Ikeu Tanziha dari Institut Pertanian Bogor.