KOBA - Stunting merugikan bagi tumbuh kembang anak. Selain mempunyai dampak jangka pendek, stunting juga mempunyai dampak jangka panjang yang membahayakan. Salah satu risiko jangka pendek yakni, bisa menyebabkan kematian.

"Dampak stunting jangka pendek, bisa menyebabkan peningkatan kesakitan dan kematian," kata Kaisan salah satu siswa SMP STANIA Koba menjawab pertanyaan Dr. Asyraf Suryadin, M.Pd Kepala DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Pertanyaan tersebut disampaikan Asyraf saat kegiatan Pengembangan Strategi Operasional Promosi dan Konseling Kesehatan Reproduksi sesuai dengan Kearifan Budaya Lokal, di SMP STANIA, Koba, Bangka Tengah, Selasa (18/2/2025).

Faktor penyebab terjadinya kasus stunting, kata Asyraf, dikarenakan kekurangan asupan gizi. Untuk itu sangat penting pengetahuan ibu mengenai pemberian makanan bergizi bagi anak. Gaya hidup juga memberikan pengaruh terhadap kasus stunting. 

"Kasus stunting bisa terjadi jika mempunyai gaya hidup tidak sehat. Perkawinan usia anak dan pola asuh anak juga memberikan kontribusi terjadinya kasus stunting," jelas Asyraf. 

Sementara dr. Dede Lina, M.KM Kepala DPPKBPPPA Kabupaten Bangka Tengah saat menyampaikan materi langsung berinteraksi dengan anak-anak. Membuka pembicara ia menanyakan kepada siswa mengenai berapa usia anak sesuai undang-undang?

"18 tahun, Bu," jawab peserta kegiatan dengan antusias. Tampak siswa mendengarkan dan mengikuti penyampaian materi kegiatan penuh semangat. 

Tak hanya itu, Dede juga mengimbau agar tidak melakukan pernikahan anak. Untuk itu, siswa harus mengindari segala perbuatan yang mengarah terjadinya penikahan usia anak.

"Sangat perlu pendewasaan usia pernikahan. Perempuan harus bisa melakukan perawatan organ reproduksi. Untuk itu disarankan anak-anak perempuan mengonsumsi tablet tambah darah," jelasnya.

Zulyan, SKM, M. Kes pemateri dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Tengah memaparkan mengenai Kegiatan Nasional Aksi Bergizi di Kabupaten Bangka Tengah.  Menurutnya, pemberian makanan bergizi bisa membuat pertumbuhan anak baik.

Selain bicara soal makanan bergizi, Zulyan juga menjelaskan mengenai perilaku bagi anak laki dan perempuan untuk menjaga kesehatan organ reproduksinya. Seperti mengenai penyakit kelamin menular.

"Contoh menjaga kesehatan organ reproduksi yakni, mengganti pakaian dalam minimal dua kali sehari. Jika aktivitas tinggi dan banyak mengeluarkan keringat, bisa mengganti pakaian dalam lebih dari dua kali sehari," sarannya. 

Sebelum kegiatan dimulai, anak-anak terlebih dahulu makan makanan bergizi. Selanjutnya diberikan tablet tambah darah untuk dikonsumsi secara bersama. Hal ini dilakukan dengan harapan anak-anak tumbuh sehat.