Pangkalpinang - Dr. Asyraf Suryadin, M.Pd Kepala DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyarankan agar tenaga pengajar tidak mudah puas. Sebab rasa mudah puas bisa menumpulkan kemampuan berinovasi. Padahal inovasi sangat penting untuk keberlanjutan lembaga.
"Ada keterkaitan antar kepemimpinan dan inovasi dalam pengembangan lembaga," jelasnya saat menyampaikan materi pada acara Upgrading Guru dan Staff Al- Mansyur, SDIT AL-Mansyur, Balun Ijuk, Kabupaten Bangka, Kamis (30/12/2021).
Ia mencontohkan, ada sesuatu perusahaan telepon seluler dikalahkan oleh perusahaan yang bergerak dalam produk yang sama dikaranakan terlambat melakukan inovasi. Sehingga pengguna telepon seluler meninggalkan prodak yang semula punya nama di pasaran ini.
Peran seorang pemimpin sangat menentukan pertumbuhan dan keberlangsungan hidup perusahaan/sekolah. Mengutip buku The Living Company, Arie De Geuss (1997), Asyraf mengatakan, banyak perusahaan mati karena dikelola kepemimpinan yang tidak memiliki pandangan ke depan.
Selain itu, seorang guru harus mampu membaca potensi anak. Ia menambahkan, jika sudah mengetahui hobi dan perilaku anak, pihak sekolah bisa menyediakan sarana dalam bentuk ekstrakulikuler. Ini merupakan kecerdasan majemuk seorang siswa.
Jika siswa mempunyai kemampuan lebih dalam bidang olahraga, maka hendaknya kemampuan tersebut diberikan tempat oleh pihak sekolah. Begitu juga, ada beberapa siswa yang menonjok di bidang sastra, kemampuan matematika atau kecerdasan siswa lainnya.
"Sebab pada dasarnya tidak anak siswa yang bodoh. Hal ini dikarenakan setiap siswa mempunyai kecerdasan berbeda-beda. Guru harus punya ide, perencanaan dan aksi," ungkapnya.