Akhir-akhir ini langit indonesia tidak lagi tersenyum berseri. Awan kelabu selalu menaungi dan menyelimuti bumi pertiwi. Musibah datang silih berganti, bencana alam menimpa seakan tak mau berhenti. Terus menerus menyapa dan menerpa pelosok negeri, seakan sudah jadi menu wajib setiap hari.


Gempa bumi, tsunami, banjir, puting beliung, longsor sampai yang terakhir tragedi pesawat lion jt 610 yang korban dan penyebabnya masih dicari dan diselidiki. Sudah pasti kesemuanya menyebabkan duka mendalam dan derita yg tak terperi. Korban jiwa berjatuhan begitu juga kerugian materi sulit untuk diprediksi.


Setelah porak poranda begini perlu waktu lama untuk pulih dan bangkit kembali. Butuh dana yang tidak sedikit untuk merekonstruksi ulang dan rehabilitasi. Rasa takut masyarakat dan trauma yang ditanggung dan harus segera diatasi.


Agenda negara pun hanya berkutat dari bencana yang satu ke yang lainnya menguras habis energi. Begitulah gambaran dan konskuensi negeri ygang katanya berdiri dalam spektrum cincin api. Berada di zona rawan bencana meniscayakan kita harus selalu siaga dari segala kemungkinan petaka dan potensi. Eksodus atau migrasi?? sy kira tdk sesederhana itu dan bukan juga sebuah solusi.


Dulu kita dikenal dengan sanjungan negeri gemah ripah loh jinawi, toto tentram karto raharjo, kekayaan alamnya melimpah, panoramanya indah, budayanya ramah, tanahnya subur rakyatnya makmur, namun cerita itu telah berlalu. Kini tanah airku tercinta terus dirundung nestapa, air mata kesedihan menetes di mana mana, rakyat menderita kehilangan jiwa dan harta benda, rumah sebagai tempat tinggal satu satunya kini telah rata dengan tanah. Kebun, sawah d pabrik tempat mencari nafkah sudah tdk bertuah.


Hidup di pengungsian karena tidak ada pilihan, ekonomi keluarga mnjd tidak jalan, anak2 menjadi sngat rentan dan riskan, kesehatan selalu jadi dampak yang kerap dipersoalkan.


Mari kita introspeksi apa sebenarnya yang menyebabkan semua ini? Apakah hanya semata faktor alam yang kajiannya tak pernah tuntas. Siklus tahunan, kesimpulan yang membuat orang awam kurang puas. Atau teguran dari Penguasa karena maksiat dan kesalahan yang melampaui batas. Padahal setiap perbuatan dosa umat manusia berkorelasi menjadi beban memberatkan bagi bumi.


Akibatnya ditanggung sendiri. Tidak ada sejengkal bumi pun yang luput dari ilmu Allah yg Maha Mengetahui. Tak ada satu lembar daun kering yang jatuh kecuali atas kehendakNya terjadi. Mungkinkah ratusan atau bahkan ribuan manusia mati tanpa sebab dan kausalitas? sepertinya mustahil kalau dikaji. Omong kosong semua analisa dan mitigasi kalau itu mengenyampingkan faktor penting ini. Hanya mengaitkan pada dimensi alam dan kerusakan alat teknologi.


INGAT ada banyak kelompok manusia sebelum kita yang binasa karena maksiat dan perbuatan keji. Zina bebas maupun dilokalisasi, LGBT difasilitasi dan jadi ajang kontestasi, sistem ekonomi penuh unsur ribawi, harta kekayaan menjadi hak monopoli tak perlu dibagi bagi, agama hanya simbol yang ada dalam formalitas ceremony.


Kalau sudah begini lalu apa yang membuat kita resistan terhadap murka Ilahi ?? Nauzubillah. Bacalah al-Quran sesekali resapi maknanya dlm hati. Mari kita taubat dan merujuk kepada kebenaran hakiki agar dosa-dosa kita terampuni dan musibah tak datang lagi, aamiin.