Berita

SESI I SARASEHAN NASIONAL PEMBANGUNAN BERWAWASAN KEPENDUDUKAN, NARASUMBER BAHAS HAL BERIKUT

PANGKALAN BARU-- Sarasehan Nasional Pembangunan Berwawasan Kependudukan yang bertempat di Ballrom Gale-Gale Jumat (13/9/2019) pada sesi pertama menghadirkan narasumber Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman dan Peneliti Senior LIPI Siti Zuhro serta yang menjadi moderator pakar komunikasi politik Effendi Gazali.

Hasto Wardoyo memaparkan tentang bonus demografi, Grand design pembangunan berwawasan kependudukan, serta peran pemerintah daerah.

"Bonus demografi tidak bisa kita petik kecuali ada syarat bahwa kualitas pendikan, kesehatan harus baik, pemerintahan memberikan dukungan yang baik, peluang kerja harus tersedia dengan baik,tanpa ada hal ini maka bonus demografi tidak bisa dipetik", ungkap Hasto. 

Hasto menyebutkan beberapa tantangan diantaranya adalah tidak meratanya bonus demografi, kualitas SDM masih rendah, keprihatinan Pemerintahan Daerah (Pemda)  artinya perhatian Pemda perlu ditingkatkan.

"Pentingnya grand design dalam kependudukan itu dalam rangka untuk memetik bonus demografi tadi,dan ini membutuhkan kolaborasi antara kementerian dan lembaga untuk saling bersinergis didukung dengan lintas program", ujarnya.

Hasto menuturkan agar daerah bisa memanfaatkan bonus demografi dengan baik pemerintah daerah perlu meningkatkan konsumsi produk lokal, pasar lokal kuasai dan produk lokal ditingkatkan salah satu agar SDM bisa dimanfaatkan dengan baik.

"Pengalaman saya jadi Bupati Kulonprogo yakni dengan slogan bela dan beli produk kulonprogo, kalau ingin membela kulonprogo ya harus membeli produk Kulonprogo, salah satunya dengan memberdayakan PDAM untuk memproduksi air minum kemasan dengan merk Air Ku yang wajib digunakan di Bandara Kulonprogo dengan melakukan MOU dengan Angkasa Pura", tambahnya.  

Pada sesi yang sama Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman memberikan paparan tentang memperkuat BKKBN untuk pembangunan berkelanjutan.

"Latar belakang saya dan istri bersemangat membangun keluarga ini karena saat awal saya menjadi Bupati Bangka Tengah, angka perceraian sesuai data yang saya terima itu tinggi,apabila tingkat perceraian tinggi tentu banyak dampaknya bagi anggota keluarga yang bercerai, juga maraknya kasus prostitusi dikalangan remaja di Bangka Belitung salah satu alasan kami fokus mengurus keluarga ini", tuturnya.

Gubernur Erzaldi mebgungkapkan betapa tanggung jawab BKKBN ini besar, namun kewenangannya ini sedikit ini beban bagi Pemda, untuk itu beliau juga berharap agar BKKBN bisa segera menjadi Kementerian.

"Kami punya program Kampung KB yang merupakan inovasi yang kami lakukan untuk mengintegrasikan program dalam kampung KB ini yang juga disinergikan dengan OPD lain, seperti Dinas Pendidikan, Dinas Perindustrian, Dinas KUMKM, Dinas Kesehatan termasuk Dinas PU kita libatkan, sinkronisasikan kegiatannya maka jadilah Kampung KB ini", terangnya. 

Gubernur Erzaldi mengungkapkan bahwa Kampung KB ini adalah cikal bakal bagaimana kita membangun keluarga untuk menjadi kuat dan sehat.

Dari pelaksanaan sarasehan ini Gubernur Erzaldi berharap ada usulan dari para peserta untuk memperkuat keluarga menjadikan bangsa Indonesia hebat.

Gubernur Erzaldi juga berpesan kepada Kepala Bappeda yang hadir agar jangan menganggap remeh penyusunan APBD, keluarga jadikan basic dalam penyusunan anggaran.

Peneliti senior Siti Zuhro memberikan paparan tentang membangun smart comunity untuk kesejahteraan keluarga.

"Definisi keluarga sejahtera yaitu keluarga yang dibentuk sesuai perkawinan yang sah yang mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materiil yang layak yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota", jelasnya. 

Siti Zuhro juga menyebutkan bahwa membangun SDM merupakan salah satu yang menjadi visi Indonesia diantaranya kesehatan ibu hamil balita dan anak sekolah, pendidikan vokasi (keterampilan), serta menyediakan lembaga manajemen talenta (diaspora).

"Balita stunting di Indonesia mencapai 30,8 % masuk dalam kategori sangat tinggi dalam standar internasional dan ini memiliki dampak kesehatan, dampak demografis dan dampak ekonomi, solusinya adalah dengan membangun smart community sehingga tercipta keluarga sejahtera menuju bangsa sejahtera dan smart disini memiliki pengertian S adalah spesifik, M adalah measurable, A adalah achiveable, R adalah realistik dan T adalah time frame", tutupnya. 

Sumber: 
DP3ACSKB
Penulis: 
Lisia ayu
Fotografer: 
Aisyah Putri, M. Fadholly
Bidang Informasi: 
DP3ACSKB

Berita Berdasarkan Kategori