Berita

Webinar Komunikasi Asyik dengan Anak dalam Keluarga, Orangtua Perlu Menghargai Hak Individu Anak

PANGKALPINANG - Terkadang orangtua kurang adil menempatkan posisi anak. Harus diketahui anak merupakan masa kini dan sebagai generasi di masa depan. Untuk itu perlu ada upaya perlindungan terhadap anak, sehingga terhindar dari kekerasan dan terpenuhinya hak anak.

Demikian dikatakan Drs. Tata Sudrajat, M.Si Deputy Chief of Program Impact and Policy of Save the Children Indonesia saat menyampaikan materi bertajuk "Menjadikan Anak-Anak Bahagia Tanpa Toxic Parents" dalam Webinar Komunikasi Asyik dengan Anak dalam Keluarga, Kamis (8/10/2020).

"Penting interaksi antara orangtua dan anak. Toxic parents adalah orangtua yang tidak menghargai anak. Tidak memperlakukan anak yang memiliki hak-hak azasi manusia, harkat, martabat dan harga diri," jelasnya.

Toxic parents juga tidak mengakui sebagai individu yang tengah tumbuh dan berkembang, unik dan berbeda kemampuan satu sama lain. Selain itu melakukan penelantaran, kekerasan fisik, psikis, seksual maupun eksploitasi terhadap anak.

Lebih jauh ia menjelaskan, toxic parents terjadi karena orangtua selalu menggunakan power berlebihan, sehingga selalu memaksakan kehendak terhadap anak. Sedangkan untuk membuat anak bahagia, orangtua harus memberikan pengasuhan positif bagi anak.

"Cara pengasuhan terhadap anak berbeda sesuai dengan umurnya. Selalu membuat keterikatan antara anak dengan orangtua. Selain itu orangtua harus pandai mengelola stres, sehingga tidak berdampak terhadap perkembangan anak," ungkapnya.

Optimalisasi kelekatan anak, ada kontinuitas mencakup interaksi antara orangtua dan dengan anak yang tetap dan berulang. Selanjutnya, stabilitas membutuhkan lingkungan yang aman dimana orangtua dengan anak dapat terlibat dalam proses saling terikat.

"Optimalisasi kelekatan juga dikarenakan adanya mutualisme mengacu pada interaksi antara orangtua dengan anak yang memperkuat pentingnya mereka satu sama lain," jelasnya.

Sementara H. Dede Purnama Alzulami, Lc Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat menyampaikan materi "Pencegahan Kekerasan pada Anak dalam Keluarga" menyarankan agar orangtua harus bisa menjaga anak, sebab anak merupakan amanah.

"Jika Allah telah menitipkan anak, maka kita didik sesuai dengan ajaran Allah SWT. Hakikatnya, tidak ada anak yang nakal, namun kita orangtua kurang sabar dalam mendidik anak," jelasnya.

Mencintai anak adalah fitrah, maka cintailah anak karena Allah SWT. Terdapat beberapa kekerasan terhadap anak, seperti kekerasan emosional, kekerasan penelantaran anak, kekerasan fisik hingga kekerasan sektual.

Sebagai orangtua harus bisa mengontrol komunikasi terhadap anak. Jangan melontarkan omongan yang bisa menyakiti hati anak. Selain itu mendidik anak jangan dengan kekerasan, sebab tidak ada tindakan kekerasan yang mendidik.

"Kesan lebih penting dari pada pesan. Kekerasan membuat anak cemas dan depresi, hilang percaya diri, jiwa anak rapuh, selalu berpikir negatif dan hilang semangat belajar," sarannya.

Sumber: 
DP3ACSKB Babel
Penulis: 
DP3ACSKB Babel
Bidang Informasi: 
DP3ACSKB