Artikel

Tips untuk Meningkatkan Optimis Anak

Membentuk mental anak yang tidak mudah menyerah juga membutuhkan usaha tanpa henti dari orangtua. Mengingat bagaimana tantangan yang sudah menanti anak-anak anda di masa yang akan datang, maka menjadi sebuah kewajiban bagi para orangtua agar mampu menciptakan dan mempertahakan rasa optimis dalam diri anak.

Berikut ini enam tips yang dapat anda coba dan terapkan untuk menerapkan pandangan hidup yang cerah bagi anak anda.

1. Berhenti mengeluh di depan anak-anak Cobalah untuk menghindar atau berhenti mengatakan “ayah letih kerja seharian ini” atau “hari ini rasanya berat sekali” di depan anak-anak anda, karena ketika anak sering mendengar anda mengucapkan ini maka tidak menutup kemungkinan anak anda akan mengikutinya ketika menghadapi sesuatu yang berat untuknya. Anak akan berfokus pada sisi yang menyulitkannya. Akan berbeda jika anda berkata “Ayah hari ini menyelesaikan tantangan yang besar di kantor” atau “Ibu baru saja bertemu dengan orang-orang hebat hari ini”. Perkataan seperti ini akan menumbuhkan pandangan positif dalam diri anak anda dan akan menganggap bahwa orangtuanya adalah yang terhebat, bukan orang lain.

2. Memiliki harapan yang tinggi Orangtua sebaiknya berani untuk memberikan tanggung jawab kepada anak sesuai dengan umurnya. Karena dengan seperti ini anak akan dapat merasakan rasa bangga atas pencapaian yang berhasil dia lakukan atau pekerjaan yang berhasil di laksanakan. Akan tetapi tanggung jawab ini haruslah sesuai dengan usianya, contoh anak usia 2 tahun dapat meletakkan mainannya kembali ke dalam keranjang, anak usia 3 tahun dapat menyimpan pakaian kotor ke tempatnya, anak usia 4 tahun dapat membawa piringnya sendiri ke tempat pencuci piring, dan lain sebagainya. Anak tidak akan bisa mengembangkan sikap yang positif dan keyakinan bahwa ia dapat melakukan sesuatu jika tidak diberikan kesempatan untuknya. Poin terpenting dalam hal ini, orangtua sudah sepatutnya bersabar karena untuk melatih anak tidak bisa dilakukan dalam 2 atau 3 kali percobaan.

3. Mendorong pengambilan resiko yang masuk akal Adakalanya anak harus kita awasi secara intens dan adakalanya anak kita lepaskan sendiri selama itu aman bagi dirinya. Wajar bagi orangtua untuk selalu merasa khawatir dan akhirnya melarang anak untuk tidak bermain dan sebagainya, tapi ini adalah celah untuk membuat pesimisme masuk ke dalam diri anak. Sesekali cobalah untuk membiarkan anak bereksplorasi di ruang bermainnya sendiri sehingga dia mampu mengenali dirinya sendiri atau membiarkan anak pulang sekolah sendiri ketika ia sudah memungkinkan dan paham tentang lingkungannya sendiri. Anak cenderung akan lebih kuat ketika dibiasakan mandiri oleh orangtuanya, mandiri sendiri bukan berarti jauh atau dekat maka anak akan menjadi manja. Tetapi mandiri bisa ditumbuhkan dengan cara memberikan anak ruang untuk bisa mengurus dirinya sendiri, sesedarhana menyampul buku sekolahnya sendiri.

4. Tunggu sebelum beraksi Setiap orangtua pasti selalu cepat berekasi ketika anaknya mengalami hal yang buruk dalam hidupnya, misalnya di sekolahnya. Akan tetapi bukan berarti orangtua harus terus menerus seperti ini, ada kalanya anda lebih baik untuk menunggu dan melihat bagaimana anak anda menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Ini akan meningkatkan rasa pencapaiannya dan juga membuatnya lebih optimis tentang apa yang dapat ia lakukan di masa depan.

5. Kuatkan anak untuk berjuang Ketika anak anda merasakan dia sulit dalam melakukan sesuatu atau saat anak anda mengatakan bahwa ia payah dalam menghafal pidato, ingatkanlah anak anda untuk terus berjuang dan memberikan dukungan kepada anak anda, misalnya dengan cara mengatakan padanya,”Nak, untuk bisa membaca seperti saat ini pun kamu harus belajar berkali-kali kan, jadi teruslah berusaha, kamu pasti bisa,”.

6. Tetap realistis Ketika anak anda mengeluhkan kesulitan dalam pelajaran yang baru di sekolahnya, akan sulit jika anda hanya mengatakan,”kamu bisa”. Hal seperti ini seperti hanya memberi jawaban tanpa solusi. Pahami permasalahan yang sedang dihadapi anak anda, coba cari solusi dan katakan padanya, “ini pun sulit untuk ibu saat seusiamu, tapi ibu berusaha untuk belajar bersama teman ibu yang pintar dalam hal ini sehingga ibu mampu lulus dalam pelajaran ini.” Realistis disini adalah kita tidak bisa memaksakan anak dapat melakukan segala hal sendiri atau berdasarkan keinginannya, cobalah untuk memberinya pandangan yang positif terhadap sesuatu sembari melihat kenyataan bagaiman dia bisa menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.

Penulis: 
Tasya Eliani
Sumber: 
DP3ACSKB
Tags: 
Anak | Forum Anak | parenting

Artikel

26/12/2018 | DP3ACSKB
17/12/2018 | DP3ACSKB
13/12/2018 | DP3ACSKB
13/12/2018 | Sumber : https://www.education.gov.gy/web/index.php/parenting-tips/item/1878-how-to-communicate-effectively-with-children
13/12/2018 | Sumber : https://www.education.gov.gy/web/index.php/parenting-tips/item/1878-how-to-communicate-effectively-with-children
11/12/2018 | DP3ACSKB

ArtikelPer Kategori