Berita

Persoalan Anak Jalanan dan Pengemis, Penanganannya Perlu Komitmen dan Konsisten

PANGKALPINANG - Kepala DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Dra. Susanti, M.AP menginginkan ada pemahaman sama mengenai perlindungan anak di Bangka Belitung. Tentunya juga perlindungan terhadap anak jalanan dan pengemis anak-anak. 

"Tiga tahun terakhir ini, semakin hari semakin bertambah. Namun fenomena ini bukan hanya terjadi di Kota Pangkalpinang," jelasnya saat telewancara di InRadio, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Selasa (26/1/2021).

Sebab kondisi serupa juga ada di Koba dan Sungailiat juga sudah ada. Artinya, persoalan ini bukan hanya terjadi di Kota Pangkalpinang. Keberadaan anak jalanan (anjal) serta gelandangan dan pengemis (gepeng) tidak hanya berasal dari luar Bangka Belitung.

Sebab berdasarkan dokumen kependudukan ada orang Bangka Belitung. Menurut Kepala DP3ACSKB, faktor ekonomi menjadi pemicu munculnya persoalan ini dan sementara ini belum ditemukan ada sindikat anjal dan gepeng di Bangka Belitung.

Lain halnya di kota besar yang disinyalir ada sindikat tersebut. Tak hanya sindikat yang melakukan eksploitasi, sebab ada juga orang tua yang melakukan hal tersebut. Anak-anak dimanfaatkan untuk mengemis agar orang menjadi tersentuh.

"Orang Bangka Belitung ini baik hati, mudah tersentuh hatinya. Ini disinyalir dimanfaatkan untuk menjadi peluang," jelasnya.

Disarankan agar masyarakat patuh terhadap aturan yang telah dibuat pemerintah. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung punya Perda No 17 Tahun 2016 tentang Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat. Begitu juga di Kota Pangkalpinang ada Perda No 7 tahun 2015 tentang Penanganan Gelandangan dan Pengemis.

"Tinggal kita komitmen mengimplementasikan aturan tersebut. Aturan ini juga sudah jelas mengatur sampai pada sanksi-sanksinya," jelasnya.

Keberadaan anak jalanan dan pengemis yang dilakukan anak-anak sangat berdampak terhadap realisasi kota layak anak. Sebab ini merupakan visualisasi yang bisa dilihat siapapun. Artinya, pemenuhan terhadap hak anak masih belum optimal.

Selain itu dalam pemberian perlindungan khusus juga belum optimal. Bangka Belitung saat ini sedang bekerja keras untuk menjadi provinsi layak anak. Ini harus didukung oleh kabupaten/kota yang layak anak.

Hingga saat ini sudah begitu banyak kebijakan kabupaten/kota. Sejumlah predikat sudah didapatkan, seperti Kabupaten Bangka Tengah sudah KLA Madya, Pangkalpinang, Belitung dan Kabupaten Bangka sudah menyandang predikat KLA pratama.

Terdapat lima katagori untuk mencapai KLA di antaranya, pratama, madya nindya, utama dan baru bisa menjadi KLA. Sementara ini di Indonesia belum ada yang mendapatkan predikat KLA, dan Kota Surabaya baru mencapai predikat Utama.

"Kita sudah memulai dan ini wajib didukung. Karena untuk menjadi provinsi layak anak harus melibatkan empat komponen besar yakni, pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan media massa," paparnya.

Sementara Sujadmi, M.A Sosiolog Universitas Bangka Belitung menjelaskan, persoalan kemiskinian bisa menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi maraknya anak jalanan dan pengemis. Selain itu adanya budaya masyarakat yang mudah memberikan sedekah uang.

Namun keinginan berbuat baik tidak selalu berdampak positif. Ia menjelaskan, sebab kebaikan ini bisa memimbulkan masalah, karena membuat pengemis menjadi ketagihan untuk melakukan aktivitasnya.

Hendaknya masyarakat memberikan sedekah pada tempatnya dan ini perlu ada sosialisasi dalam bentuk program pemerintah. Tentunya program yang dilaksanakan pemerintah harus mendapatkan dukungan dari masyarakat.

"Kebijakan bisa dilaksanakan dengan baik, jika ada dukungan masyarakat. Masyarakat jangan berkontribusi membuat semakin banyak gepeng dan anjal," jelasnya.

Program rumah singgah atau panti asuhan bisa menjadi tempat untuk berdarma atau bersedekah. Ia menambahkan, pemerintah bisa membuat sosialisasi dengan kata-kata dilarang memberi uang kepada pengemis. 

"Hal lain bisa dilakukan yakni, mengidentifikasi gepeng dan anjal.
Membuat kebijakan dengan melihat akar permasalahannya, dan penanganan harus secara holistik," tegasnya.

Sumber: 
DP3ACSKB Babel
Penulis: 
DP3ACSKB Babel
Bidang Informasi: 
DP3ACSKB