Artikel

PEREMPUAN DALAM ISLAM

Hanya ada dua jenis umat manusia di dunia ini dari sejak pertama kali  diciptakan. Laki-laki  dan perempuan. Selain jenis  ini silahkan dibahas di forumnya sendiri.  Keduanya memiliki bentuk dan sifatnya masing-masing  secara kudroti yang berbeda antara satu dengan lainnya. Memiliki misi dan potensi untuk saling melengkapi agar peran kekholifahan di muka bumi  ini  berjalan secara seimbang dan berkesinambungan. Terma kholifah dalam  konteks ini dimaknai dengan  keberlangsungan hidup. Tugas dan amanah ini hanya akan sukses manakala dilakukan dengan mengikuti aturan yang telah digariskan oleh Allah SWT, Pencipta dan Pemilik alam semesta. 

Pembahasan perempuan dalam perspektif Islam bukanlah qaul jadid atau masalah baru. Jauh sebelum dunia barat mengkampanyekan teori gender secara massif seperti hari ini, Islam pada  15 abad yang lampau telah menyatakan penghargaan  dan penghormatan yang pantas dan proporsional untuk kaum wanita. Justru deklarasi menumental ini lahir  disaat perempuan berada pada titik nadir dalam sejarah peradaban umat manusia. Mereka dipandang sebagai 'barang' yang dapat diperjual belikan. Diberlakukan dengan tidak hormat hanya sebagai pemuas nafsu saja, dapat diwarisi. memiliki anak perempuan adalah aib keluarga sehingga menjadi sebuah kewibawaan menguburnya hidup-hidup. Tidak ada hak sama sekali atas harta benda suaminya atau ayahnya. Sejarah kelam yang menempatkan perempuan sebagai objek penderitaan yang sulit untuk dibayangkan. Itulah budaya dan kultur masyarakat yang terkenal dengan istilah jahiliyah. Artinya bodoh karena kondisi yang telah melampaui batas-batas akal sehat kemanusian.

Islam datang dengan misinya yang sangat familial dan terkenal. Termaktub sepanjang zaman sebagai rahmatan lil’alamin. Pengukuhan dan penegasan di tengah kemerosotan akhlak/moral dan resesi budaya masyarakat bahwa semua manusia adalah sama dan setara  di hadapan Allah SWT.  Perbedaan itu hanya ditentukan oleh kualitas iman, amal  dan takwa. Bukan pada garis keturunan, rupa, warna kulit dan juga jenis kelamin. Konsekuensinya tidak boleh lagi ada diskriminasi, kezoliman dan sikap anti sosial lainnya karena sesuatu yang telah menjadi domain dan takdir Tuhan Yang Maha Kuasa.  Perempuan yang sholihah sama derajatnya  dengan laki-laki yang sholih. Mendapat pahala dan juga dosa yang setimpal sesuai amal perbuatannya masing-masing. Mempunyai tugas, tanggung jawab (responsibility), kewajiban dan hak dalam batasan hukum taklifi menurut kehendak dan kebijaksanaan syariat.  

Setiap perempuan muslimah diakui dan dijamin haknya sebagai penerima harta warisan sesuai  dengan asas keadilan Allah (hikmah). Ketentuan bagian perempuan dalam beberapa kasus faroidh memperoleh seperempat, sepertiga atau separuh dari bagian laki-laki ini tidak bisa menjadi dalih bahwa agama mengajarkan ketidakadilan dan  diskriminasi gender. Namun ketentuan ini dengan alasan yang sangat logis dan masuk akal bila dikaji dalam kesempatan yang lebih luas. Kewajiban memberikan mahar (nihlah) dalam suatu prosesi pernikahan adalah bentuk konkrit lain pemuliaan Islam terhadap kaum perempuan. Makin tinggi nilai mahar yang diberikan makin bagus dan berkah arti suatu pernikahan dan itu menjadi hak prerogatif pengantin perempuan. Masyaallah.

Sosok ibu dikomplementasikan  secara propethis sebagai (al-umm madrasah ula) artinya ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anak. Eksistensinya bagi generasi bangsa dalam rumah tangga sangat strategis. Fungsi pengajaran dan pendidikan (tarbiyah ) bagi anak bangsa menjadi sangat bergantung pada kualitas kaum ibu. Kesuksesan anak dan keluarga di kemudian hari tidak terlepas dari peran dan jasa seorang ibu. Karena keluarga adalah bentuk terkecil dari suatu negara maka kondisinya berkorelasi dan berkontribusi terhadap nasib suatu bangsa. Bahkan dalam parameter yang lebih luas para ibu dianalogikan sebagai tiang negara (al-ummahat ‘imad al-bilad). Perempuan  kuat negara kuat. Kaum ibu merepresentasikan tiga kali lipat wilayah kehormatan para ayah. Bahkan  Allah SWT, menggantungkan keridhoanNya dengan ridho orangtua terutama ibu. Secara spesialis Allah SWT istimewakan perempuan nama bagi satu surah dalam kitab suciNya yaitu surah an-nisa'.

Kewajiban mengenakan jilbab adalah perintah mutlak bukan dengan tidak ada sebab. Perempuan yang tampil seksi dan fulgar menjadi sebab pemicu dari beragam kasus pelecehan, kekerasan seksual dan pemerkosaan, maka keharusan menutup aurat menjadi suatu keniscayaan. Ini bukan tentang pembatasan gerak dan hak asasi perempuan seperti yang dituduhkan kalangan anti Islam, akan tetapi membuka pintu bagi kehormatan dan martabat kaum wanita muslimah di ruang domestik dan publik. Islam tidak pernah melarang mereka untuk berkarir dalam suatu profesi dan pekerjaan sejauh eksistensinya terjaga dari kondisi ikhtilat, kholwat dan unsur maksiat lainnya. Mendapat penghargaan dan gaji sesuai dengan bidang kompetensi dan keahlian yang dimiliki. Tidak boleh ada perbedaan upah karena pertimbangan faktor perbedaan jenis kelamin.

Poligami adalah masalah yang paling ramai dikomentari para pegiat dan aktivis gender.  Beragam hujatan dan opini dialamatkan untuk menyudutkan konsep Islam karena telah membolehkannya praktek beristeri lebih dari satu perempuan. Legalisasi berpoligami tidak relevan dan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan serta merendahkan martabat kaum wanita. Bagaimana mungkin rasa keadilan dan tanggungjawab dapat maksimal terjaga dalam suatu keluarga yang melaksanakan perkawinan dengan dua orang isteri atau lebih ini secara simultan. Inilah antara lain dalil-dalil stigma dan propaganda yang sengaja mereka besar-besarkan agar umat ini ragu terhadap kebenaran agama ini. Mari kita dudukkan masalah ini secara lebih proporsional. Paktek poligami hukumnya hanya mubah (boleh) bukan sunnah apalagi wajib. Itupun dengan syarat dan ketentuan yang tidak mudah. Hanya karena kondisi yang memaksa dan demi kemaslahatan bersama seorang muslim dapat melakukan opsi ini.

Islam sebenarnya tidak kekurangan dalil dan argumen untuk menjelaskan semua permasalahan aktual dan kontemporer secara terang benderang. Islam sangat concern dalam menjaga harkat, martabat dan keadilan umat manusia. Deklarasi dan pembelaan hak-hak asasi manusia, melawan upaya dan praktek-praktek diskriminasi gender dan marginalisasi karena perbedaan kodrati. Tidak ada satu dalilpun dalam al-quran al-karim maupun hadits nabawi yang mendiskreditkan status kaum perempuan. Khodijah, Aisyah, Asma binti Abu Bakar dan lain-lainnya adalah contoh figure-figure wanita muslimah di masa Rosulullah SAW dan Sahabat RA yang sangat disegani dan dimuliakan. Prestasi dan kontribusinya dalam tarikh Islam menjadi bukti bahwa perempuan bisa sejajar bahkan melebihi kaum laki-laki dalam  beragam aspek kehidupan kapan dan dimana saja. (Caknur)

Penulis: 
Nuryadin
Sumber: 
Nuryadin - DP3ACSKB
Tags: 
Perempuan dalam Islam | Perempuan | Islam