PELATIHAN PARENTING DI ERA DIGITAL

PELATIHAN PARENTING DI ERA DIGITAL

Pangkalpinang-Parenting di Era Digital, Pelatihan yang sangat bermanfaat dan kekinian ini baru saja diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI melalui bidang PPPA Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Kependudukan Pencatatann Sipil dan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang dibuka pada Selasa, 19 September 2017. Acara ini akan berlangsung selama 2 (dua) hari yaitu 19 sd 20 September 2017 bertempat di Hotel Puncak Pangkalpinang.

Acara pembukaan dihadiri dan dibuka secara langsung oleh Assisten Deputi Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat dan Pornografi, dra. Valentina Ginting, M.Si dan Kepala DP3ACSKB, Bapak Haryoso, S.H.

Haryoso menyadari bahwa keberadaan internet bagaikan dua sisi mata pisau, artinya satu sisi membawa dampak positif, disisi lain membawa dampak negatif. Terlebih lagi sekarang anak – anak dapat dengan mudah mengakses internet bahkan mungkin beberapa dari anak – anak yang lebih pandai menggunakan gadget daripada orang tuanya. Haryoso juga menyayangkan dengan banyaknya games yang dimaikan oleh anak – anak ternyata tidak jarang yang mengandung hal – hal yang berbau kekerasan dan pornografi dan tanpa disadari mempengaruhi otak anak untuk melakukan hal – hal yang sebelumnya tidak kita sangka seorang anak bisa melakukannya.

“25 juta anak Indonesia sudah mengenal internet, di Bangka Belitung anak – anak SD sudah sangat biasa dan familiar dengan yang namanya internet mealui gadget, meskipun mereka belum tau dampak positif maupun negatif yang dapat ditimbulkan dari kebiasaan menggunakan gadget”. Tutur Haryoso.

Beberapa kasus kekerasan anak yang dicontohkan oleh valentina ginting dalam sambutannya cukup menggugah seluruh peserta yang rata – rata memiliki anak pada usia remaja.

“berkisar 750 foto anak diperjualbelikan setiap harinya dengan tarif Rp.100.000,- per 30 foto anak, dan dijula ke pedofil di 49 negara pengguna” tuturnya. “ era bonus demografi Indonesia tahun 2030 akan gagal jika kita tidak pandai dalam menyikapi hal ini, disinilah peran kita untuk bersama – sama menyiapkannya dan yang paling besar tanggungjawabnya adalah pada keluarga” imbuhnya.

“ mulai ada pergeseran dalam pola pikir anak, anak lebih lancar berbicara lewat Whatsapp daripada face to face, perubahan generasi ini tidak  bisa kita tolak namun menjadi PR kita untuk menyikapinya dengan bijak” tambahnya.

Parenting di era digital ini bertujuan memberikan pemahaman kepada orang tua, guru dan masyarakat tentang bagaimana menghadapi tantangan dalam mendidik dan menjaga anak di era yang bebas informasi dengan keberadaan internet. Peserta berasal dari perwakilan guru Bimbingan Konseling, Lembaga Masyarakat, DP3ACSKB, Diskominfo, Kanit Cybercrime di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Selama dua hari, peserta didampingi oleh 2 orang fasilitator pusat yang benar – benar konsern bergelut dalam pendidikan anak. Selain memberikan materi Parenting di Era Digital dan Aku Cerdas Berinternet, pada hari ke-2, peserta dilatih untuk dapat memberikan edukasi tentang hal – hal yang berkaitan dengan materi. Simulasi edukasi dibagi dalam 4 kelompok dengan karakteristik audience yang berbeda yaitu anak – anak di pedesaan, anak- anak perkotaan, orang tua di pedesaan, dan orang tua di perkotaan. Antusias peserta dalam simulasi mendapat apresiasi dari fasilitator dengan memberikan semacam hadiah sederhana namun berhasil memotivasi para peserta. Sembari menutup pelatihan, fasilitator menyampaikan harapan bahwa nanti peserta yang telah diberikan pengetahuan dan pelatihan ini dapat menjadi agen dalam menyelamatkan anak bangsa. “Satu Anak Menyelamatkan Satu Generasi” ujar Pofi, salah satu fasilitator. //Fia

Sumber: 
-
Penulis: 
Fianda
Fotografer: 
Fianda
Editor: 
Yanuarson