Artikel

Nilai Sebuah Penghargaan APE 2018

Setidaknya beban berat itu kini sedikit telah berkurang. Sempat terpasung lama antara kehampaan dan harapan yang sama volume tekanannya. Setelah segala upaya dan doa dipanjat kan pada banyak momentum dan kesempatan kabar gembirapun datang di sela rapat pimpinan edisi Rabu, 12 Desember 2018.

Meskipun rapat pimpinan (rapim) tidak mengusung tema utama tentang topik terkait, namun karena statement ini disampaikan pimpinan di bagian mukaddimah, entah mengapa bagian selanjutnya dari rapat menjadi kurang menarik. Lalu saya coba mencari tahu dari content wa yang biasanya selalu mendahului informasi verbal, ternyata memang ada informasi grup bidang terkirim yang terlewatkan semalam.

Selembar Surat berstempel Kenegaraan dari Presidan RI kepada Gubernur Kep. Babel telah disampaikan. Hal menghadiri undangan penganugerahan penghargaan APE (Anugerah Parahita Ekapraya) 2018 di Istana Negara. Seketika lamunanku tertuju kepada teman2ku yang berjibaku tak kenal waktu rehat, sabtu maupun minggu pada beberapa bulan yang lalu. Pengorbanan dan perjuangan yang bisa dibilang cukup melelahkan itu akhirnya telah berbuah manis. Ungkapan syukur alhamdulillah patut untuk diagungkan karena kabar baik ini menjadi kado terindah bagi dinas di penghujung tahun.

Targetpun telah tercapai dan memuaskan. Sebagai manusia normal rasa cemas di awal kini telah berganti euforia tapi tak boleh berlebihan dan kebablasan. Rasa senang, gembira hal yang manusiawi bahkan ekpresi pekikan takbir Allahu akbar atau selamat pagi tidak dilarang dalam maksud meningkatkan semangat dan menumbuhkan keyakinan bahwa pada dasarnya kita semua bisa, Bangka Belitung sekali lagi berhasil menorehkan prestasi membanggakan di level nasional. Dari 34 provinsi kita masuk dalam 22 provinsi terpilih dan berhak untuk menaiki tangga podium sang juara.

Hakikatnya ini menjadi panggung selebrasi kemenangan kaum marginal terutama perempuan dan anak di Bumi Serumpun Sebalai. Meskipun demikian tidak boleh ada terbersit perasaan jumaha apalagi sombong. Karena ini akan menghancurkan kita sebagai pemenang hari ini (Proud destroy you). Capaian dan raihan prestasi ini maknanya mengajak kita semua untuk lebih maksimal lagi dalam tugas dan tanggunjawab. Pesan yang disampaikan melalui simbol penghargaan ini kedepan sebenarnya tidak lebih ringan. Meskipun trophy belum lagi diserahterimakan (kabar mutakhir menyebutkan pada tanggal 19 Desember 2018 di Istana Wakil Presiden RI) namun tuntutan untuk mempertahankannya sudah menjadi agenda kerja di tingkat daerah yang harus pula dipikirkan dan dilaksanakan pada tahap berikutnya.

Lazimnya dari pengalaman yang sudah2 di level ini biasanya kita banyak yang lengah dan kalah. Sehingga adagium mempertahankan akan jauh lebih sulit daripada mendapatkan, benar2 nyata adanya. Kita seringkali terbuai dalam frame work yang stagnan, merasa puas karena juara sudah diraih (Satisfactory of being championship). Melihat semuanya aman2 saja, padahal zaman terus berubah, dengan segala karakter tantangan yang juga tidak mudah. Sehingga bila kita tidak antisipasi dari sejak sekarang, maka tidak mustahil, semoga tidak diaminkan oleh Malaikat, cerita lama tahun 2012 akan terulang. Keinginanan untuk mewujudkan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang responsif gender sebenarnya ujiannya sesudah perhelatan ini diselenggarakan. Manakala kondisi sosial dan pemerintahan terhadap persepsi dan implementasi PUG belum berjalan layaknya sebuah sistem maka kita akan gagal untuk kedua kalinya.

Saat itu penghargaan prestesius dengan segala tingkatannya ini tak lebih dari sebuah ukiran kuningan atau apapun bahan materialnya yang tidak ada maknanya sama sekali. Namun kita harus tetap optimis dan punya motivasi serta tekad yang kuat untuk lebih baik lagi. Semoga ini tidak menjadi anti klimak bagi upaya kita untuk terus meningkatkan kesejahteraan kaum perempuan dan anak di seluruh pelosok negeri. Sejatinya ini merupakan tonggak sejarah untuk kita bersama mewujudkan penguatan kapasitas dan mainstreaming gender apapun skala ruang dan waktunya, smg

Penulis: 
Nuryadin
Sumber: 
DP3ACSKB
Tags: 
APE