Artikel

Mengapa Kesetaraan Gender Penting?

Mengapa kesetaraan gender (Gender Parity) itu penting?

Kesetaraan gender di Indonesia sangat penting dibahas mengingat begitu banyaknya persoalan perempuan di Indonesia yang masih belum selesai. Masih sedikitnya perwakilan perempuan di parlemen atau pemerintahan, lapangan pekerjaan juga masih belum baik bagi pekerja perempuan, Pendidikan yang masih minim untuk perempuan dan kesehatan perempuan yang masih belum maksimal. Di luar itu gender parity secara spesifik berkaitan dengan kemakmuran ekonomi karena perempuan adalah penjaga stabilitas ekonomi keluarga, terutama kepala keluarga masih lebih banyak dipegang laki-laki padahal banyak juga perempuan kepala keluarga, padahal perempuan yang harus memastikan kebutuhan keluarga itu tercukupi. Di luar itu perempuan pekerja masih belum mendapatkan pendapatan yang sama dengan laki-laki. Hal-hal krusial di bidang politik atau ekonomi penting dikaitkan juga dengan Pendidikan perempuan yang masih harus lebih ditingkatkan, karena diskriminasi buat anak perempuan yang masih terjadi di kota-kota bahkan seperti Jakarta. Pentingnya keterwakilan perempuan dalam berbagai sector adalah Jalan menuju gender parity yang akan dicapai itu. Kemajuan dan kepemimpinan perempuan menjadi hal utama untuk kinerja bisnis maupun kemakmuran ekonomi. Dalam banyak sector di Indonesia suara perempuan masih kurang diperhatikan, karena itu program di Indonesia masih membutuhkan usaha menuju kesetaraan antara perempuan dan laki-laki secara konkrit. Kerja-kerja nyata atau Act for Equality penting kita diskusikan dan perjuangkan bersama-sama.

Dalam Indeks Kesetaraan Gender yang dirilis Equal Measures, Indonesia mendapat hasil beragam di berbagai indikator yang dijadikan acuan.

Indonesia misalnya dipuji lantaran mencatat tingkat melek aksara yang termasuk paling tinggi di Asia (Perempuan 93,59% dan Laki-laki 97,17%). Selain itu kebijakan Jaminan Kesehatan Nasional  yang mencakup 3/4 populasi dan tercatat sebagai salah satu program kesehatan nasional terbesar di dunia, berhasil mengurangi angka kematian ibu.

Namun begitu pengaruh konservatisme dalam berbagai produk perundang-undangan masih menafikan hak-hak sipil kaum perempuan. Hukum perpajakan dan warisan misalnya dinilai masih mendiskriminasi perempuan. Selain itu produk legislasi yang melindungi perempuan dari pelecehan seksual dan kekerasan domestik masih lemah dan tidak ditegakkan.

Menurut survei Women's Health and Life Experiences pada 2016 silam, satu dari tiga perempuan Indonesia yang berusia 15-64 tahun mengaku pernah mengalami kekerasan fisik dan seksual. Perempuan juga masih menghadapi rintangan hukum dan diskriminasi di lapangan kerja. Dengan angka sebesar 51% pada 2017 silam, keterlibatan perempuan Indonesia di pasar tenaga kerja masih jauh di bawah rata-rata pria sebesar 80%.

Rendahnya partisipasi perempuan pada pasar tenaga kerja diyakini antara lain disebabkan oleh pernikahan usia dini, memiliki anak, pendidikan yang rendah dan perubahan struktur ekonomi di pedesaan yang ditandai dengan melemahnya sektor pertanian sebagai dampak migrasi dari desa ke kota.

Let's Make a Pledge and Act for Equality!

Semua kalangan - pria maupun perempuan – dapat mengambil langkah nyata untuk membantu terciptanya kesetaraan gender. Bisa dengan cara memikirkan dan mendorong atau bahkan membantu setiap perempuan mencapai ambisi mereka, menyerukan keseimbangan gender dalam kepemimpinan, menghormati dan menghargai nilai perbedaan, mengembangkan budaya yang lebih terbuka dan fleksibel, atau membasmi ketidakadilan di tempat kerja. Masing-masing dari kita dapat menjadi pemimpin dalam bidang kita sendiri dan berkomitmen untuk mengambil tindakan pragmatis untuk meningkatkan keterlibatan dan memajukan perempuan. Seperti apa tindakannya bisa dimulai dengan hal kecil mulai dari sekolah atau kampus atau komunitas masing-masing sesuai bakat dan minat kita yang realistis untuk dilakukan.

Penulis: 
Aisyah Putri
Sumber: 
DP3ACSKB
Tags: 
Gender | Statistik Gender