Artikel

Islam di tengah mainstream global

#Kehidupan dunia membuat banyak orang terpana. Gelamor dan gemerlap pernak perniknya seringkali menyilaukan mata. Lalu menyangka bahwa ini festival euforia dan pesta suka cita yang tidak ada habisnya. Maksiat dipertontonkan tanpa ada seoragpun yang mencegah seakan sudah merupakan hal yang lumrah. Rasa malu dan takut hanyalah masalah kebiasaan saja. Atas nama kebebasan semuanya berhak melakukan apa saja sesukanya, asal tidak saling mengganggu dan merugikan, kuncinya. Aksi penodaan dan penistaan agamapun tak jadi soal bila dikemas dalam frame triatrikal seni dan tidak menimbulkan reaksi. Banyak tokoh agama sudah seperti jurkam yang pandai berorasi penuh  retorika dan  kontradiksi. Idealisme dipinggirkn demi  jabatan sesaat dan materi duniawi, sekarang identik dengan ulama baru penuh sensasi serta kontroversi. Ulama su",  itulah kira2 predikatnya dari yang pernah diprediksi Nabi Muhammad SAW yang akan muncul di akhir zaman umatku. Para elit negeri sibuk dengan pencitraan supaya terpilih lagi duduk di kursi  sambil cari kesempatan membangun dinasti atau menumpuk harta berbaur aroma korupsi. Sementara janji2 kampanye yang lalu belum 1/3nya terealisasi, kini bikin janji2 lagi untuk memikat hati meskipun yang sudah2 jauh panggang dari api. Itulah nasib masyarakat terpolarisasi, terus dibodohi dan dibohongi. Karena ini bagian dari strategi pemenangan yang terangkum dalam visi misi. Tidak sedikit juga yang berani mencoba peruntungan bermodal mimpi dan ambisi  terjun ke dunia  penuh spekulasi meskipun ujung2nya harus  gigit jari. Bahkan terpaksa dirawat serius di RSJ akibat gagal jadi dan terlalu lama berhalusinasi. Cost dan risiko politik terlampau tinggi dari sebuah sistem yang mungkin perlu dikaji ulang dan dikoreksi. Sebenarnya rakyat hanya menghendaki  demokrasi yang elegan tidak menebarkan fitnah dan agitasi. Wajah perpolitikan kita memang masih dlm kerangka mencari jatidiri antara demokrasi sejati atau imitasi. Flatform pun terbagi antara nasionalis, abangan atau islamis murni. Sementara anak2  di-create tak ubahnya aset investasi, diharuskan menguasai beragam ilmu pasti di usianya yang masih dini. Maka sekolahpun dipilihlah yang paling bonafit demi gengsi dan alasan prestasi. Anak perempuan boleh membuka aurat dan jilbab syar'i demi syarat profesi jika perlu kalahkan laki2 di arena MMA, saatnya untuk unjuk gigi, bukan jamannya lagi kamu dipingit atau dikebiri seperti cerita Siti Nurbaya yang  dipaksa nikah di bawah tekanan psikologi dan tanpa kompromi. Emansipasi dan semangat Kartini sudah lama lahir dan membumi. Antara pahlawan sejati atau korban konspirasi (ghozwul fikri). Ibu2 diajarkan untuk berdikari karena bosan hidup diatur suami secara ekonomi. Institusi keluarga bukan lagi tempat membina ridho ilahi agar tumbuh generasi robbani, tapi tak ubahnya perusahaan saham milik  bersama yang setiap akhir tahun devidennya dapat dibagi bagi sesuai  komisi. Gaji isteri dan gaji suami tertata rapi sepertinya akan cukup  terpelihara sampai  dibawa mati.  Oragtua yang sudah renta dititip tinggal di panti atau disuruh mengasuh cucu tanpa kecuali setelah lelah dulu mengurus anak sendiri. Tak perlu diupah sebab kalau memakai jasa pengasuh yang lain  2 juta sudah lumayan berarti jika dikalkulasi. Mengharap santai dan rehat dikala senja ternyata hanyalah cerita pilu yang menyayat hati. Menjadi pesakitan di sudut istana anak sendiri penuh ironi. Inilah fenomena dan ahwal kita hari ini. Kita hanyut terbawa mainstream global yang telah merusak tatanan sosial dan ideologi. Arusnya mengalir deras tanpa batas  menggerus sendi2 moral dan nilai2 luhur tradisi. Budaya melayu yang Islami  sudah jauh tergradasi. Sikap ramah dan saling menghormati dianggap sudah sangat basi, silturrahim jadi begitu sederhana karena ruang2 publik dan privat sudah dijejali media ICT. Kita menikmati transformsi  ini dengan ketawa ketiwi, klaim  kemajuan zaman, peradaban dan modernisasi, sambil menghakimi orang lain yang tidak "terinfeksi" dengan sebutan kampungan atau termarginalisasi. Seakan akan kita saja yang paling NGERTI.

Penulis: 
Nuryadin
Sumber: 
DP3ACSKB
Tags: 
Islam | Globalisasi

Artikel

26/12/2018 | DP3ACSKB
17/12/2018 | DP3ACSKB
13/12/2018 | DP3ACSKB
13/12/2018 | Sumber : https://www.education.gov.gy/web/index.php/parenting-tips/item/1878-how-to-communicate-effectively-with-children
11/12/2018 | DP3ACSKB
04/06/2018 | Nuryadin - DP3ACSKB

ArtikelPer Kategori