ArtikelPer Kategori

Gini Ratio Bangka Belitung terbaik di Indonesia

Pernahkah kita mendengar bahwa sebagian kecil warga negara Indonesia menguasai sebagian besar kekayaan negeri ini?. Hal itu benar adanya dengan adanya bukti dari Lembaga Keuangan Swiss, Credit Suisse mengeluarkan riset mengenai ketimpangan kekayaan di berbagai negara. Indonesia masuk dalam 9 besar negara dengan kekayaan tidak merata. Hanya satu persen saja orang terkaya di Indonesia sudah menguasai 49,3 persen kekayaan nasional. ya katakanlah hampir separuh kekayaan kita dikuasai oleh hanya 1 persen orang, dan separuhnya lagi dibagi oleh 99% warga negara.

Konsentrasi kekayaan pada 1 persen terkaya di Indonesia terburuk keempat di dunia setelah Rusia (74,5 persen), India (58,4 persen), dan Thailand (58 persen). Selain itu, jika dinaikkan menjadi 10 persen terkaya, penguasaannya mencapai 75,7 persen kekayaan nasional. “Kondisi tersebut membuat kita harus menghadapi sedikit kebisingan dan kegaduhan ekonomi,  meningkatnya kesenjangan sosial dan ketimpangan ekonomi yang lebar ini kalau tidak disikapi dengan baik maka negara kita beresiko benar-benar menghadapi darurat kesenjangan. Kesenjangan ekonomi Indonesia juga dapat dilihat dari hasil penilitian Bank Dunia yang menyebutkan 10 persen orang terkaya menguasai 77 persen dari total kekayaan nasional. Sedangkan 200 juta lebih penduduk lainnya hanya menikmati tak lebih dari 25 persen.  Ketimpangan yang terjadi di Indonesia bisa menjadi suatu masalah serius dalam sistem perekonomian dalam negeri yang harus segera diselesaikan.

Salah satu, indikator dalam mengukur kesenjangan adalah dengan Gini Rasio. Gini Rasio merupakan indikator untuk menggambarkan ketimpangan atau ketidakmerataan dengan  nilai berada dalam rentang 0-1. Bila nilainya 0 maka terjadi pemerataan sempuna sementara jika nilainya 1 maka terjadi ketimpangan sempurna. Jika Gini Rasio < 0,4, tingkat ketimpangannya rendah. Jika Gini Rasio berada di 0,4-0,5, maka tingkat ketimpangannya sedang dan tingkat ketimpangan tinggi bila Gini Rasio di atas 0,5.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka ketimpangan (gini ratio) pada September 2016 lalu sebesar 0,394 atau menurun sangat tipis sebesar 0,003 poin dari nilai Maret 2016 sebesar 0,397. Angka ini juga menurun dibanding rasio gini September 2015 sebesar 0,402. Meski secara nasional menurun, tapi ketimpangan di perkotaan tercatat masih lebih tinggi dibanding ketimpangan pedesaan. Rasio gini perkotaan tercatat sebesar 0,409, sedangkan di pedesaan sebesar 0,316. tipisnya penurunan angka gini rasio ini menurut BPS (2016), disebabkan beberapa faktor. Di antaranya pengeluaran kelompok bawah dan menengah lebih tinggi ketimbang pengeluaran kelompok atas. Namun demikian, pengeluaran kelompok menengah ke bawah meningkat cukup besar. BPS mencatat, pengeluaran ekonomi terbawah tumbuh 4,56 persen, sementara kelompok menengah tumbuh 11,69 persen, dan kelompok ekonomi tertinggi hanya tumbuh 3,83 persen.

Berita baiknya bagi masyarakat Bangka Belitung adalah bahwa Bangka Belitung (Babel) merupakan provinsi dengan ketimpangan terendah se Indonesia. Pada September 2016, Badan Pusat Statistik mencatat bahwa Gini Rasio Provinsi Bangka Belitung sebesar 0,288, terendah dibandingkan 33 provinsi lainnya dan satu-satunya provinsi dengan Gini Rasio di bawah 0,3. Indikator ketimpangan di Babel ini lebih tinggi dari posisi Maret 2016 maupun September 2015, yakni hanya 0,275. Adapun Gini Rasio Babel di perdesaan sebesar 0,239 dan di daerah perkotaan 0,318.

Memang jika melihat pembangunan di Bangka Belitung secara sekilas nampak lebih merata dibandingkan dengan daerah lain. Hampir semua wilayah di bangka belitung ini memiliki akses yang terjangkau transportasi. Jalan- jalan relatif baik dan sudah hampir semuanya diaspal, bahkan sampai ke wilayah kepulauan. Sarana dan prasarana juga tidak terlalu berbeda antara desa dan kota. Kita diuntungkan dengan luas wilayah yang tidak terlalu besar, medan yang relatif datar, tidak ada pegunungan yang tinggi atau jalan yang sangat naik turun sehingga mudah dalam mengelolanya. Bisa dibandingkan misalnya dengan provinsi tetangga Sumatera Selatan yang ibukota Provinsi yaitu Palembang berkembang pesat hampir menyamai Jakarta, namun disisi lain ada wilayah kabupatennya yang pembangunanya seperti jalan ditempat. Disamping wilayah yang beragam baik perbukitan, pegunungan lembah sehingga menyulitkan dalam mengelola pemerataan pembangunan. Demikian juga di provinsi lain dibelahan Indonesia. Dengan berbekal keuntungan secara georgafis ini adalah wajar jika Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dapat berkembang lebih baik lagi. Kekayaan alam yang melimpah serta daya tarik wisata yang memiliki tren bagus juga merupakan modal berharga bagi Babel untuk bersaing mensejahterakan masyarakat. Harapanya adalah gini ratio ini tidak hanya merata saja namun juga sejahtera, bersama sama, karena bisa saja indek gini rationya bagus namun sama sama dalam posisi tidak sejahtera, ini yang tidak kita inginkan.

 

 

Penulis: 
Faiz Marzuki
Sumber: 
-