BONUS DEMOGRAFI TANTANGAN DAN PELUANG

BONUS DEMOGRAFI TANTANGAN DAN PELUANG

Pengertian mudahnya tentang Bonus Demografi adalah kondisi dimana jumlah penduduk usia produktif meningkat. Kenapa dikatan bonus, singkatnya hal ini karena jarang terjadi pada setiap Negara jadi disebut bonus demografi. Caranya adalah dengan melihat Proyeksi  Demografi Usia yang produktif merupakan salah satu factor mempengaruhi perkembangan sebuah Negara. Usia produktif memiliki rentangan 15 tahun sampai 64 tahun. Hal ini bisa dilihat masa semangat produktif seseorang terjadi pada rentangan usia tersebut.Proyeksi Bonus Demografi sudah mulai dibaca Pemerintah. Dalam buku tentang Bonus Demografi yakni “Siapa Mau Bonus? Peluang demografi Indonesia” yang diterbitkan Kominfo Tahun 2012 banyak memprediksi bahwa bonus demografi di Indonesia puncaknya akan terjadi pada tahun 2028 sampai tahun 2031 dengan arti pada saat tahun 2028-2031, satu (1) usia seseorang yang tidak prosuduktif (0-15 dan 60 lebih) akan ditanggung oleh dua (2) orang lebih usia seseorang yang prukduktif (Usia 15-60 tahun).

Melihat perkembangan demografi di Indonesia ditemui prediksi bahwa pada 2028-2031 ada lebih dari 2 orang bekerja di usia produktif yang menanggung 1 orang. Diprediksi Indonesia akan mendapatkan bonus demografi usia produktif (15-64 tahun) dalam rentang tahun 2020-2030 mendatang. Jumlah usia produktif diperkirakan akan mencapai angka 70 persen dibandingkan dengan usia tidak produktif yang hanya sekitar 30 persen. Beberapa Negara yang berhasil memanfaatkan bonus demografi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya, yakni Tiongkok yang pertumbuhan ekonominya sebelum bonus demografi menjadi 9,2 persen, Korea Selatan dari 7,3 menjadi 13,2, Singapura dari 8,2 meningkat menjadi 13,6 dan Thailand dari 6,6 meningkat tajam menjadi 15,5.

Melihat perkembangan negara lain ini perlu dicermati dengan sungguh-sungguh agar Bonus Demografi bisa dimanfaatkan Indonesia lebih baik dari negara lain. Maksudnya agar harapan yang mengaca pada negara lain sama atau lebih baik dari kenyataannya nanti, oleh karenanya perlu cara-cara untuk mengatasi Bonus demografi. Melihat pengalamnan Negara lain yang berhasil memanfaatkan Bonus Demografi, layaknya Indonesia sebagai Negara yang besar penduduknya pun bisa memanfaatkan hal itu. Bukan hanya tugas pemerintah, masyarakat perlu memanfaatkan Bonus Demografi dengan baik agar generasi saat terjadinya hal tersebut bisa menjadikan negeri ini lebih baik dan berkembang. Menyiapkan Generasi saat Bonus Demografi Bonus Demografi perlu cara untuk Mengatasinya, agar Indonesia bisa meraih nilai positif pada Bonus Demografi. Hal yang tentu menjadi penting adalah mempersiapkan masyarakat saat terjadinya Bonus Demografi. Pada 2030 hingga rujukan dari Bank Dunia, Indonesia menjadi Negara terbesar ke-7 dalam hal jumlah penduduk. Usia Produktif tentu sangat berkaitan dengan kepemudaan. Oleh karenanya, peran pemuda sangat penting dalam membangun bangsa ini terlebih dalam Bonus Demografi. Perlu pula adanya kebijakan nasional kepemudaan tanah air. Agar dalam Bonus Demografi peran usia produktif bisa optimal, bukan banyaknya usia produktif namun belum produktif. Hal inilah yang tentunya harus disiapkan dari sekarang agar bisa mengatasi Bonus Demografi. Setelah usia produktif memang siap mental dan cara kerjanya, maka  pada bidang ekonomi tentunya Bonus Demografi harus bisa dimanfaatkan dengan sabaiknya yang barometernya produktifitas. Menurut Ketua Bidang Organisasi Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Anggawira mengatakan, bonus demografi yang terjadi di Indonesia merupakan modal yang baik dalam membantu pengembangan sektor ekonomi kreatif di Tanah Air. Melihat kondisi saat ini, ekonomi kreatif semakin berkembang di Indonesia. Hal ini akan semakin berkembang jika Bonus Demografi disiapkan dengan baik. Banyaknya usia produktif yang menunjang ekonomi kreatif semakin berkembang. Melihat perkembangan di atas, sangatlah perlu di usia produktif saat terjadinya Bonus Demografi adanya produktifitas. Bukan hanya usianya yang produktif, namun aksi nyata dalam mengembangkan masyarakat dan membantu peradaban Indonesia lebih baik. Usia pernikahan bisa jadi patokan untuk menjadikan produktifitas meningkat. Menujuk pada Ketua Persatuan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) ) Sarsanto W Sarwono tentang Bonus Demografi “Bonus demografi penduduk tak bisa dihadapi dengan membuka lowongan kerja saja. Apalagi perekonomian Indonesia semakin menurun. Salah satu caranya harus dimulai dari dini dengan menaikan batas usia nikah anak”. Mengatasi Bonus Demografi ada banyak cara. Namun secara umum bisa disimpulkan adalah membangun kebijakan tentang kepemudaan, tata kelola ekonomi, dan adanya perhatian pada pengembangan kependudukan. Integrasi adanya usia produktif yang bisa mengatasi Bonus Demografi adanya yang mempunyai skill dan produktifitas yang jelas.  Menurut Fasli Jalal ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar Indonesia dapat menikmati bonus demografi tersebut di antaranya angkatan kerja yang berlimpah tersebut harus berkualitas, baik dari sisi kesehatan, pendidikan, maupun kompetensi profesionalnya.
Syarat lain adalah suplai tenaga kerja produktif yang besar harus diimbangi dengan tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai, sehingga pendapatan perkapita meningkat. Dengan berkurangnya jumlah anak umur 0-15 tahun karena program KB, anggaran yang semula disediakan untuk pelayanan kesehatan dan pendidikan mereka dapat dialihkan untuk peningkatan SDM pada kelompok umur I5 tahun ke atas agar mampu bersaing meraih kesempatan kerja baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. Namun, meskipun jumlah penduduk produktif lebih banyak dari pada masyarakat nonproduktif, jika sumber daya manusianya lemah dan tidak berkualitas, maka akan terjadi bencana karena akan banyak masyarakat usia-produktif yang menganggur dan terpaksa menjadi beban negarakata Fasli.
Jika itu terjadi maka, Indonesia tidak akan menikmati bonus demografi untuk tumbuh dan  sejahtera, namun jusru masalah sosial besar yang akan terjadi. (Faiz)

Sumber: 
-
Penulis: 
Faiz Marzuki
Fotografer: 
-
Editor: 
Dolly