ArtikelPer Kategori

ANAK BUKANLAH MINIATUR ORANG DEWASA

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, telah mengeluarkan kebijakan Full Day School (FDS). Meskipun tertunda namun Kebijakan tersebut telah tertuang dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah. Dalam Pasal 2 butir 1 disebutkan bahwa Hari Sekolah dilaksanakan 8 (delapan) jam dalam 1 (satu) hari atau 40 (empat puluh) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu. Dalam bahasa keseharian, kebijakan ini dikenal dengan sebutan sekolah lima hari (SLH). Kebijakan SLH ini sebagaimana kebijakan pemerintah lainya di era terbuka ini menuai pro dan kontra di masyarakat. Bagi yang setuju, kebijakan ini dianggap sebagai ikhtiar untuk meningkatkan mutu pendidikan. Kebijakan tersebut juga bisa menambah waktu kebersamaan anak-anak dengan orang tua. Sementara yang menolaknya berargumen bahwa kebijakan ini akan menggerus keberadaan TPQ, madrasah diniyah, dan atau pendidikan keagamaan lainnya. Kebijakan ini dianggap tidak sesuai dengan sosiologis masyarakat Indonesia.

Secara filosofis kebijakan mendikbud tentang hari sekolah ditujukan dalam kerangka penguatan pendidikan karakter (PPK). Mendikbud menimbang bahwa untuk mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi tantangan perkembangan era globalisasi, perlu penguatan karakter bagi peserta didik melalui restorasi pendidikan karakter di sekolah.

Restorasi pendidikan karakter bagi peserta didik di sekolah akan lebih efektif dengan optimalisasi peran sekolah. Caranya dengan mengatur ulang hari sekolah; dari enam hari sekolah menjadi lima hari sekolah.

Hal tersebut diatas adalah logika pemerintah yang akan mengubah jam sekolah dari 6 hari menjadi 5 hari. Namun kita lihat apa dampaknya dari kebijakan tersebut baik positif maupun negatif. Bahwa kebijakan tersebut dampak mungkin sesuai dengan apa yang disebutkan dengan perkembangan global. Dimana tuntutan hidup lebih tinggi terutama dari sisi ekonomi sehingga kedua orang tua baik ayah maupun ibu semua bekerja akibatnya anak tidak ada yang menjaga dirumah dan kesibukan meningkat , jalanan macet dan lalulintas padat sehingga ini dapat mengurangi rute sekolah yang aman bagi anak untuk pulang sendiri dan berkurangnya tempat bermain yang aman dan edukatif bagi anak yaitu anak pulang sekolah mau main dimana, sementara lingkungannya tidak mendukung untuk itu. Hal tersebut biasanya terjadi hanya di kota besar yang memiliki ciri individual, kebutuhan tinggi dan bergerak dengan cepat. Dengan kenyataan tersebut maka 5 hari kerja menjadi relevan  untuk dilaksanakan di kota besar. Sementara bagi masyarakat desa atau kota kecil problem tersebut relatif tidak terjadi. Tuntutan ekonomi tidak sebesar di kota besar, jalanan masih cukup aman, masyarakatnya masih saling mengenal satu sama lain, dan banyak lembaga pendidikan non formal seperti madrasah Diniyah, sekolah sore, PTQ daln lain lain yang tumbuh dan berkembang. Maka kebijakan Full Day School menjadi dipertanyakan keefektifanya. Alih-alih menambah karakter anak didik, jika menggerus keberadaan sekolah keagamaan yang tujuanya juga mendidik karakter anak bangsa yang berakhlak dan religius. Kehawatiran bahwa kebijakan tersebut hanya cocok untuk perkotaan dan kebijakan tersebut dibuat oleh pemerintah pusat yang kebetulan adanya di kota metropolitan tanpa melihat situasi dan kondisi di daerah menjadi alasan yang masuk akal.

Pemerintah saat mengeluarkan ide bahkan sudah menjadi kebijakan tentu sudah melalui kajian yang mendalam dari berbagai sudut pandang. Mudah mudahan kebijakan ini adalah dengan mempertimbangan kepentingan terbaik bagi anak.karena kebijakan ini seandainya gagal, anaklah yang paling dirugikan dalam hal ini. Anak memiliki hak bermain dan belajar tidak hanya disekolah, namun juga dirumah dan dilingkungan tempat dia tinggal. Dengan kebijakan ini maka waktu di sekolah lebih lama, dan waktu berkumpul dengan keluarga juga mungkin cukup karena ada 2 hari libur sabtu dan minggu. Waktu 2 hari ini mungkin akan dipakai untuk acara keluarga, seperti rekreasi dan sebagainya. Namun waktu untuk lingkungan sekitar, sosialisasi dan kebutuhan bermain dengan teman sebaya juga mengenal flora dan fauna dilingkungan sekitar ini yang anak sangat berkurang.  Dahulu kita bisa terus keluar rumah sepulang sekolah dan selalu membuat kegiatan yang mengasikkan bersama teman seperti menangkap ikan, burung dan berpetualang yang itu semua bagian dari belajar juga. Namun sekarang kegiatan tersebut sudah nyaris hilang, dan akan musnah mungkin dengan adanya Full Day School.   Mungkin memang sudah bukan zamanya, namun mudah mudahan anak yang memang sedang masa bermain masih mendapatkan arena bermainya ditengah tengah jam sekolah yang sampai sore. Dalam arti kegiatan sekolah tidak hanya dijejali dengan teori dan tugas yang berat namun diselingi dengan permainan yang mengasikan bagi anak.

Sebagai masyarakat alangkah baiknya kita mengikuti kebijakan pemerintah dan seandainya terdapat ketidak sesuaian dari kebijakan tersebut tentu akan diperbaiki atau dievaluasi. Namun disarankan kepada pemerintah untuk tidak menerapkan kebijakan tersebut kepada seluruh wilayah, dibuat sampel terlebih dahulu semacam pilot project, dan nanti akan dipantau dan dievaluasi. Pemerintah juga perlu melakukan upaya sinergitas antara pendidikan formal SD, SMP dll) dengan pendidikan non formal seperti TPQ, Madrasah Diniyah, bahkan lembaga kursus-kursus untuk saling mengisi dan melengkapi agar masing masing bisa berjalan sesuai dengan perannya dan tidak ada yang dirugikan. Memang melakukan sinergitas semacam itu tidaklah semudah yang diucapkan, namun harus dicoba, sehingga jika dinilai berhasil akan cukup berdampak terhadap penerimaan kebijakan baru tersebut dimasyarakat. Saat itulah kebijakan Full Day School siap diberlakukan di seluruh Indonesia.  Intinya apapun kebijakannya jangan sampai mengorbankan kepentingan dan kebutuhan anak karena anak adalah kita dimasa mendatang. Namun apa yang kita alami dimasa lalu sungguh berbeda dengan yang anak kita alami dimasa kini dan masa yang akan datang karena kita hidup di zaman yang berbeda. Janganlah membayangkan bahkan menyamakan cita-cita kita sama dengan cita –cita anak kita. Karena anak bukanlah miniatur orang dewasa. 

Penulis: 
Faiz Marzuki
Sumber: 
Permendikbud No.23 Tahun 2017 Tentang Hari Sekolah